Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Friday, 27 February 2015

Dua Kapal Perintis Permudah Transportasi

Masyarakat Kabupaten Sikka dan NTT umumnya kini bisa berpergian antar pulau dengan lebih lancar. Dua buah kapal perintis membuka jalur transportasi dengan pusat Pelabuhan L. Say Maumere. Hal ini pastinya sangat membantu transportasi masyarakat dan barang dari dan ke Pelabuhan L. Say Maumere. Kedua kapal perintis ini melayani hingga Bima di bagian barat dan Atapupu Timor di bagian timur. Yang belum terjangkau adalah Rote, Sabu dan Sumba. Di bawah ini rute kedua kapal tersebut.

- KM. SURYA TERANG ABADI, melayani rute pelayaran: Maumere-Larantuka-Waiwerang-Lewoleba-Balawurng-Balanusa-Kalabahi-Maritaing-Atapupu-Kupang PP. Info lebih lanjut bisa menghubungi Bpk. Sunaryo di 081236231111 atau PT. Pelnus Seram Jaya Lines Maumere.

-KM. NUANSA ABADI, melayani Rute: Maumere-PALUE-Maurole-Marapokot-Reo-Labuhan Bajo-BIMA PP. dan utk mengetahuinya bisa menghubungi Bpk Dheni di 081338083030 atau ke PT. Karunia Utama Asia Timur Maumere.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Thursday, 26 February 2015

Pariwisata Bukan Hanya Festival

Salah Satu Obyek Wisata di Kab. Sikka yang belum banyak diketauhi
Saya selalu bertanya, kapan parwisata di tempat kelahiranku ini bisa menjadi andalan membangkitkan ekonomi masyrakat kecil? Atau kapan pariwisata bisa menjadi kebanggaan anak-anak muda di tempat ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terang terngiang hingga kini. Sesaat angin segar datang ketika Pemda Sikka lewat kepemimpinan Bupati Ansar Rera dan Wabup Nong Susar mencanangkan tiga sektor unggulan dalam membangkitkan kesejateraan rakyatnya. Salah satu sektor yang digenjot dengan dana yang katanya 'wah' adalah sektor Pariwisata. Bukan main. Dua jempol buat pemerintahan ini. Namun waktu berjalan. Hingga menuju dua tahun kepemimpinan mereka, sektor pariwisata yang menjadi idola pemerintahan ini masih belum menelurkan sesuatu yang berarti.

Saya tentu saja merasa miris. Begitu banyak potensi di daerah ini namun tidak bisa mensejahterakan rakyatnya. Ada apa ini. Mengapa dunia pariwisata disini seperti tidur tak bangun-bangun?

Baru-baru ini, pemerintahan ini melalui dinas pariwisata melakukan langkah aneh tapi nyata. Dengan bangganya mereka melakukan sesuatu yang menurut saya buang-buang waktu dan biaya. Sebuah festival diadakan dengan biaya tak kecil yakni festival pantai koka. Saya pun di undang untuk mendukung suksesnya kegiatan ini. Tapi saya tegas menolak. Karena menurut saya apa yang dilakukan melalui festival tidak akan membuahkan apapun. Efek jangka panjang buat masyarakat sekitar apa? Efek dominonya apa?  Saya menolak karena selama berkelana dari satu obyek ke obyek lain, dengan mata kepala sendiri saya melihat begitu banyak potensi yang terabaikan. Ini tidak adil. Sama sekali tak adil!! Festival pantai koka adalah sesuatu yang dipaksa dijalankan tanpa konsep jelas.

Selain festival pantai koka, sebelumnya dinas pariwisata juga melakukan hal yang sama. Kali ini mereka merambah lautan dan menawarkan kepada masyarakat pesisir, festival lomba dayung. Namun sejumlah masyarakat pesisir kecewa karena mereka tidak tahu. Festival tersebut jauh dari publikasi. Hampir semua warga Maumere tidak mengetahui adanya kegiatan tersebut. Tidak tanggung-tanggung media di Maumere memboikot kegiatan tersebut.

Setelah festival pantai koka, kembali terdengar kabar akan dilaksanakan festival lomba foto bawah laut. Lagi-lagi pengelolahan pariwisata disini cenderung berkonsep jalan pintas ketiimbang pemberdayaan dan pembenahan. Festival ini memang belum diadakan dan belum diketahui kapan dilaksanakan. Namun bagi saya, sekali lagi, ini adalah sebuah konsep aneh tapi nyata.

Beberapa waktu lalu saya bersama saudara saya mencoba melihat isi lautan Teluk Maumere. Kesan pertama adalah bawah lautan kita memiliki potensi yang luar biasa. Selain beraneka biota laut, keindahan terumbu karang juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun itu hanya sebagian, karena sebagian besar lainnya rusak. Di dasarnya kami melihat serpihan karang yang tergelatak tak berdaya. Jika festival diadakan tanpa survey yang valid maka festival ini akan berbalik arah mencoreng muka pariwisata kita.

Bukan itu saja. Sebelumnya, kami melihat adanya upaya sekelompok orang yang sedang melakukan pemboman ikan di perairan teluk maumere. Melihat kami datang mereka pun lantas kabur. Menurut salah satu pemandu bawah laut, pemboman ikan di perairan ini masih marak, termasuk pembiusan ikan yang bisa berakibat fatal pada matinya karang-karang muda.

Lantas apa yang sudah dilakukan oleh instansi terkait? Kok tiba-tiba saja bikin festival? Sudahlah melakukan survey? Sudahlan bermitra dengan instansi lain dalam mencegah pemboman? Sudahkah mendata kerusakan yang ada di dasar laut? Jangan lantas bikin festival jika belum memiliki data yang kuat. Jika festival pun tidak berdampak bagi daerah ini, terkhusus masyarakat setempat untuk apa diadakan? Jangan buang duit untuk hal yang mubazir, mari lakukan pembenahan obyek wisata dulu, baru kita bicara festival!

Mengurus pariwisata memang tidak mudah. Butuh orang-orang hebat yang bekerja dengan hati dan niat tulus..Dunia pariwisata di Sikka saat ini menunggu sentuhan dingin dari tangan yang terberkati. Saya, dalam petualangan di berbagai tempat di Sikka selalu berharap agar potensi-potensi yang tersebar begitu luar biasa suatu saat bisa menjadi andalan kaum warga desa. Merekalah yang pantas mendapatkan itu semua. Mereka telah menjaga potensi itu dari jaman dulu, kita tinggal mengelolahnya menjadi sesuatu yang mendatangkan manfaat.

inimaumere.com selalu siap bekerja sama dan bermitra dengan pemerintah dalam membangun pariwisata daerah ini. Salam sukses selalu. Semoga kedepannya dunia pariwisata Sikka makin maju dan menjadi tujuan para pelancong dunia.(ossrebong)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 25 February 2015

Tuan Besar di Pantai Kolisia

Jika Anda akan ke Kabupaten Sikka, Anda tak perlu terburu-buru untuk meninggalkan kabupaten ini. Karena Anda akan menyesal setelah kemudian tahu bahwa ternyata di kabupaten ini menyimpan sejuta pesona yang tiada duanya. Ya betol. Saya ingin memastikan bahwa Anda akan merasa puas dan penuh cerita manis. Anda tak perlu risau meski pariwisata disini cenderung tidak ada sentuhan, saya akan membawa Anda sekalian melancong ke tempat-tempat alamiah. Salah satu tempat yang saya rekomendasikan di sini adalah Pantai Kolisia. Yuukkk..

Tempat ini berlokasi di Kecamatan Magepanda. Dari Kota Maumere kira-kira berjarak 10 Km. Jalan beraspal mulus dan memiliki pemandangan indah di sisi kiri kanan.

Untuk mencpai pantai ini, kita hanya perlu berjalan kaki. Kendaraan dipastikan akan susah masuk hingga kawasan pantai. Ada dua alternatip yang bisa menjadi pilihan. Pertama melewati sepanjang aliran sungai Kolsia. Kedua melewati persawahan penduduk.

Kedua jalur ini masing-masing memamerkan lingkungan yang asri dan nyaman. Sangat alamiah dan natural. Anda bisa memilih kedua jalur ini dengan cara, pertama masuk melalui persawahan penduduk dan pulang melewati aliran sungai. Setelah berleha-leha di pantainya, Anda bisa membasuh diri di sungainya yang jernih dan segar.

Pantai Kolisia termasuk salah satu pantai yang belum diketahu khalayak. Ia masih sepi dan hampir tanpa pengunjung meski pun pada hari libur. Di tempat ini berbagai ternak bebas berkeliaran, burung aneka jenis memamerkan suara merdu berseliwern tanpa satupun yang mengganggu. Di tengah semilir angin pantai yang bertiup nikmat kesepiannya seolah menawarkan nuansa berbeda. Jauh dari hingar bingar apapun. Kita bagai tuan besar yang sedang berlibur diatas kemolekan pantai yang privasi.

Sebelum sampai ke Pantai Kolsia


www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Monday, 23 February 2015

Pakai Scooter, Ilham Keliling Nusantara

Maumere menjadi tempat persinggahan berikutnya bagi pemuda asal Padang Pariaman. Dalam kisah petualangannya hari ini, Minggu (22/2/2014), pemuda 21 tahun itu memperkenalkan namanya Ilham ketika inimaumere.com menjabat erat tanganya. Di pinggir Jalan Don Thomas Ilham nampak beristirahat. Sisa-sia gerimis membasahi aspal jalan. Ia bercerita tentang kisah perjalananya sepanjang 137 Km dari Kota Larantuka. Anak muda ini kemudian memberitahu bahwa lewat Maumere ia bakal menyebarang ke Makasar. Tujuannya ke Sulawesi dan berlanjut ke Kalimantan, Maluku dan rencanya akan mengakhiri kisahnya di tanah Merauke, Papua.

Pengembaraan panjang ini dilakoninya sejak tahun 2013 silam. Ia memulai bergerak dari titik Nol di Sabang Aceh. Hingga saat ini Ilham telah mencapai hingga Timor Leste. Dalam kisahnya ia menuturkan bahwa garis finis akan berakhir di titik Nol Kota Merauke, Papua.

Kisah mengelilingi Indonesia dilakoninya dalam upaya memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) terlama dan terjauh. Ia bertekad melakukan usaha ini hingga berakhir, Dengan modal nekad, pemuda ini kemudian bergerak dan akhirnya berada di Kota Maumere.

Usai bertemu di pinggir jalan, inimaumere.com memperkenalkan dirinya dengan salah satu anggota Mapala Universitas Nusa Nipa Maumere, Chen Chaberezy. Ia kemudian diajak bermalam di Ruang Pecinta Alam Unipa tersebut. Ia mendapat sambutan akrab anggota Mapala lainnya. Lebih serunya lagi, Ilham mendapat kehormatan bercerita tentang pengelamannya lewat corong Radio Suara Sikka FM. Anak muda ini tak lupa berterima kasih kepada masyarakat Kota Maumere yang telah menyambut hangat kedatangannya. Dari berbagai SMS dan telpon interaktif, para pendengar mengucapkan selamat datang dan selalu sukses dalam kisah berikutnya.

Dalam pengembaraanya, Ilham setia ditemani Scooter butut yang memiliki body unik. Motor yang telah dimodifikasi dibuat sedemikian rupa selain sebagai alat ransportasi juga sebagai rumah berjalan. Dengan modal nekad anak muda ini akan meneruskan perjalanananya hingga usai. Tentu dengan scooter yang setia bak kekasih hati.

Ilham akan berada di Maumere hingga tiga hari. Ia akan mengurus kelengkapan lainnya, melapor diri dan memperbaiki scooternya. Anak-anak Mapala telah memiliki jadwal bersama dia mempekenalkan Maumere dari berbagai sisi. Semoga sukses.
Kedatangannya disambut Mapala Unipa Maumere

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 21 February 2015

Carolina Raih Putri Kepulauan

Carolina di Pantai Wailiti Maumere
Maria Carolina Theresa Noge, Finalis Putri Indonesia 2015 mewakili NTT akhirnya merebut Putri Kepuluan Bali, NTB, NTT pada ajang pemilihan Putri Indonesia 2015 malam ini, Jumat (20/2/2015). Pada ajang yang disiarkan secara langsung oleh Televisi Indosiar Carolina berhasil masuk 10 besar. Dara manis yang berstatus mahasiswi Hukum Universitas Padjajaran Bandung gagal melangkah ke babak lima besar. Meski demikian. Carolina pautut berbangga hati. Upaya mengharumkan Flobamora tercapai meski lewat rengkuhan gelar Putri Kepulauan.

Bersama enam finalis Puteri Indonesia 2015, Carolina meraih juara dalam kategori Puteri Indonesia Favorit Kepulauan. Ia berhak tampil dalam babak 10 besar seteah sebelumya memperebutkan posisi tersebut bersama 37 peserta lainnya dari berbagai propinsi di Indonesia.
Puteri Indonesia Favorit Kepulauan 2015 adalah sebagai berikut:
1. Kepulauan Sumatera: Sumatera Utara Farhannisa Nasution
2. Kepulauan Jawa: Banten Riri Anangningdyah
3. Kepulauan Kalimantan: Kalimantan Barat Chintya Fabyola
4. Kepulauan Sulawesi: Sulawesi Utara Gresya Amanda Maaliwuga
5. Kepulauan Bali, NTT, NTB: NTT Maria Carolina
6. Kepulauan Indonesia Timur: Papua Dian Aryanti
Pemenang dari ajang bergengsi tersebit akan menggantikan Elvira Devinamira yang menjadi Putri Indonesia 2014.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Saturday, 31 January 2015

Carolina Disambut Hangat

Finalis Putri Indonesia NTT Galang Dukungan
Bersama Rektor Unipa, Ir.Angelinus Vinsensius,M.Si..sambutan hangatdari Maumere untuk sang finalis Putri Indonesia 2015  Maria Carolina Theresa Noge (20)
Finalis Putri Indonesia 2015 mewakili NTT, Maria Carolina Theresa Noge (20) hari ini Jumat (30/1) menyambangi beberapa tempat di Kabupaten Sikka. Mahasiswi Semeseter 6 Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung tersebut mendapat sambutan hangat di Kampus Universitas Nusa Nipa (Unipa) dan SMK Jhon Paul II. Sebelumnya anak pertama dari dua bersaudara blasteran Bajawa dan Watuneso Ende ini bersilaturahmi ke Kantor Bupati Sikka. Di tempat ini gadis bertinggi 170 cm mendapat dukungan dari Bupati Ansar Rera.

Di Kampus yang beralamat di Jalan Kesehatan itu, dara cantik ini dikalungi selendang khas Sikka. Ia juga mendapat sambutan erat dari seluruh citivas. Tembang Moggi e dari kelompok Sora Unipa menggetarkan suasana ditengah terik. Carolina mengucapkan terima kasih atas sambutan meriah. Dia kemudian menceritakan kilas pendidikan dan motivas mengikuti ajang Pemilihan Putri Indonesia 2015.

Di SMK Jhon Paul II,  tak kalah seru. Siswa-siswi yang memenuhi pelataran sekolah memberikan sambutan hangat. Beberapa tembang daerah dihadirkan ditengah suasana yang begitu akrab. Sejumlah siswa tidak mau melewatkan momen sederhana tersebut dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Dengan senyum ramah, Carolina menjawab sekaligus memberikan motivasi kepada mereka.

Gadis manis yang beralamat di Jalan Melati Perumnas Maumere ini kemudian melanjutkan perjalananan ke Pantai Koka dan Rumah Tenun Ikat di Nita. Sebelumnya ia berziarah di pemakaman opa-oma dari garis ibunyanya di TPU Iligetang Maumere. Kakek kandungnya mengabdikan hidupnya di Kabupaten Sikka sebagai mantri kesehatan, salah satunya pernah bertugas di Waigete.

Kepada sejumlah media di Pantai Wailiti, gadis nan ramah ini menyatakan komitmennya untuk mendukung promosi budaya dan pariwisata NTT . Ia juga menjelaskan tentang komitmenya terhadap isu perdagangan manusia (human trafficking), putus sekolah dan kesetranaa gender.

Kunjunagan ke NTT dan seluruh Flores dalam rangka meperkenalkan diri sekaligus, meminta restu dan doa serta dukungan kelak kepadanya di ajang bergengsi Pemilihan Putri Indonesia 2015.
Malam Grand Final akan diselenggarakan pada Jumat 20 Februari 2015 di Jakarta Convention Center dan disiarkan Indosiar.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 16 January 2015

Melihat Meteor di Dala Elat!

Jejak Sejarah Kloangpopot!
Saya dan dua warga Dala Edat di Pondok Meteor
Dusun Dala Elat di Desa Kloangpopot, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, NTT merupakan salah satu dusun di Nusantara yang pernah merasakan pukulan Meteor. Sisa peninggalan yang menggegerkan warga Dala Elat jaman itu masih ada. Siapapun bisa mengunjunginya. Ia terletak dalam pondok kecil yang terletak di pinggir jalan di tengah perkampungan. Meteor legendaris yang telah saya dengar ceritanya semenjak remaja akhirnya mengobati rasa penasaran.

Betul. Semenjak remaja, batu meteor di Kloangpopot telah mencubit keingintahuan. Ia telah memercikan rasa penasaran yang terpendam lama. Beruntung, Minggu 11 Januari 2015, saya berkunjung ke Dala Elat. Dusun yang dua bulan lalu dicanangkan sebagai Kampung Pancasila oleh Moat Langsinus alias Bung Sila. Putra Dala Elat yang mengelilingi Indonesia sekian tahun demi membangkitkan kembali tegaknya nilai-nilai luhur Pancasila di segenap Nusantara.

Siang itu bersama sejumlah rekan “Komunitas Kaki Gatal” kami menjajaki air terjun Murun. Kami beruntung melewati pondok meteor. Ia berada persis dipinggir jalan tanah. Sedikit keluar dari area salah satu rumah warga.

Batu tersebut masih dalam bentuk aslinya semenjak jatuh di kampung itu. Warga Dusun Dala Elat menjaga batu ini dengan baik. Hingga saat ini meteor tersebut tidak dikelolah oleh dinas terkait sebagai bagian dari destinasi wisata.

Menurut cerita warga, jatuhnya batu meteor tersebut sudah sangat lama. Semenjak mereka belum ada. Jadi saat itu katanya leluhur mereka yang mengalami peristiwa benturan tersebut. Setelah jatuh ke bumi, meteor tersebut meninggalkan bau tak sedap.

Menurut cerita Bung Sila, saat meteor jatuh sebagian besar rumah panggung rubuh. Getaran dan gesekan meteor pada bumi mengakibatkan guncangan hebat. Diperkirakan banyak penduduk yang meninggal. Sedang sebagian lainnya selamat karena saat terjadi guncangan meteor sedang melakukan aktivitas berkebun.

Situasi dusun langsung berubah. Bau menyengat menebar di seluruh dusun. Akibat situasi yang tidak mendukung, sejumlah warga yang selamat lantas mencari tempat yang lebih aman. Mereka berduyun merambah ke lembah (kloang) yang dipenuhi hutan popot (sejenis pisang hutan). Mereka kemudian menebangnya dan mulai tinggal menetap. Lembah tersebut lama kelamaan makin berkembang dan akhirnya dikenal dengan nama Desa Kloangpopot.

Sedangkan Silvester Nong, salah satu putra Kloangpopot setuju dengan cerita Bung Sila tentang hempasan meteor. Namun beliau memiliki versi berbeda tentang asal muasal Kampung Kloangpopot. Menurutnya, setelah terjadi hempasan meteor, warga yang masih hidup kemudian eksodus ke hutan popo. Dalam bahasa Indonesia Popo sejenis kayu ampupu yang sangat kuat. Di tempat itulah berkembang kehidupan baru. Maka, kampung yang baru ditinggali itu kemudian dikenal dengan nama Kloangpopot.

Bung Sila yang memiliki kepedulian besar terhadap tanah leluhurnya menjelaskan ia telah mengambil beberapa obyek untuk di kirim ke Departemen Geologi dan Arkeologi UGM. Harapannya agar bisa dilakukan penelitian, termasuk mengetahui umur batu meteor, kandungan batu meteor serta perkiraan diameter awal dan berat yang sesungguhnya. Ia juga mengambil sampel dari sekitar lokasi jatuhnya meteor.

Terkait umur batu mateor menurut Bung Sila harus dikaji secara ilmiah oleh team peneliti sehingga akurasinya bisa dipertangunggjawabkan. “Sehingga saya jarang menggunakan pendekatan mitos,” jelasnya.

Dala Elat
Nama Dala Elat merupakan nama dalam bahasa daerah setempat. Dala, artinya Bintang, sedangkan Elat atau Elah artinya Jatuh. Jadi Dala Elat bisa berarti Bintang jatuh. Bintang di sini bisa jadi adalah meteor yang jatuh ke bumi Dala Elat, kala itu.

“Ini ada korelasinya dengan simbol Sila Pertama Pancasila, yakni Bintang (Dala). Sehingga perjalanan Misi Pancasila sakti keliling Nusantara, adalah amanat Tuhan Yang Maha Esa, dan yang melakukan Misi ini lahir di Dala Elat. Sehingga kampung Dala Elat, saya baptis jadi kampung Pancasila. Mungkin kira-kira begitu filosofinya,” demikian Bung Sila menjelaskan. Selama ini beliau melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia dengan membawa Misi Pancasila Sakti. Ia trenyuh mendapati kenyataan yang terjadi terhadap nilai-nilai luhur Pancasila yang mulai keropos.

Selain cerita diatas, ada pula cerita legenda, cerita rakyat yang melegenda di sana. Konon saat itu, ditengah cuaca cerah malam hari, dihiasi bintang-bintang yang sangat indah, dua orang gadis manis menumbuk padi. Sambil menumbuk, keduanya menghitung bintang yang yang menghiasi angkasa malam hingga salah satu bintang jatuh dan menimpa dusun tersebut. Maka dusun itu kemudian diberi nama Dala Elat (Bintang Jatuh).

Demikian secuil cerita tentang Batu Meteor Dala Elat yang akhirnya bisa saya datangi. Jika Anda ingin kesana, bisa menggunakan mobil atau motor. Ia berada di pegunungan sejuk. Akses jalan lumayan. Dari Kota Maumere melaju ke arah timur. Butuh hampir sejam untuk sampai di dusun ini.

Dusun Dala Elat, adalah wilayah yang berada di Desa Kloangpopot, Kecamatan Doreng. Silvester Nong menjelaskan Desa Kloangpopot menjanjikan berbagai potensi wisata yang patut dijual. Ia menyebut selain batu meteor, ada pula wisata air terjun Murun (yang baru saja kami datangi), wisata gua alam, gua nipon dan agro wisata: sayur, buah buahan seperti durian, rambutan, salak dan komoditi kakao, cengkeh dan vanili.

Selain itu, Desa Kloangpopot berdekatan dengan pantai selatan Doreng. Di bibir laut Sawu ini menyebar panorama alam nan eksotik yang belum dijamah otoritas pariwisata kabupaten ini. Semuanya berada dalam wilayah Kecamatan Doreng.

Potensi besar yang dijelaskan tersebut patut ditanggapi. Kekayaan wisata ini bisa jadi tawaran menarik buat pengelana yang menyukai jejak wisata petualang. Jika Anda sekalian ingin mampir di Kabupaten Sikka, Desa Kloangpopot dan Kecamatan Doreng pantas masuk kalender wisata Anda. (Ossrebong)

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---