Selamat Datang di Maumere...

NEWS: Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya melantik Sekda Sikka Drs. Cyprianus da Costa menggantikan Sabinus Nabu di aula Setda Sikka, Maumere, Senin (18/1/2010) pagi....Pihak Inspektorat Sikka telah membentuk tim pemeriksa terhadap PNS yang diduga terlibat calo CPNSD Sikka tahun 2009/2010, total uang yang diterima calo CPNSD tersebut Rp 40 juta dari empat orang pelamar....Sebanyak 22 imigran asal Iran dan Irak masuk ke Maumere melalui Bandara Waioti, Rabu (20/1/2010) pagi, menumpang pesawat Merpati dari Kupang. Mereka langsung diamankan polisi dan petugas imigrasi setempat, pada bulan Oktober 2009 lalu, sebanyak 27 imigran asal Afganistan, juga masuk ke Maumere melalui Bandara Waioti.. ......30-an rumah warga di perkampungan nelayan di Dusun Waipare A dan B, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, terancam gelombang pasang....Batavia Air pada penerbangan perdananya Kamis(07/01/2010) siang mendarat mulus di Bandar Udara Waioti Maumere.....Batavia Air cabang Maumere akan melayani rute penerbangan Maumere – Kupang – Denpasar – Surabaya – Jakarta setiap hari Selasa, Kamis, Jum ad dan Minggu.....Pemerintah Kabupaten Sikka akan mengusulkan pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda,hal tersebut sebagai bentuk penghormatan atas jasa Frans Seda kepada Masyarakat Sikka Semasa menjabat Menteri Perhubungan RI...
Berita Kantor Bupati Sikka terbakar disini

Monday, 8 February 2010

Ritus, Magis - Religius di Kabupaten Sikka

Setiap kampung dan suku di Kabupaten Sikka ( dan juga berbagai suku di Pulau Flores-NTT) mempunyai mesbah ( Watu Mahe) atau batu persembahan. Dan mesbah adalah pusat berbagai gelar ritus magis-religius. Di Sikka dikenal dua bagian terbesar ritus tahunan: Upacara Dua Siklus Tahunan; Upacara Tiga Siklus Daur Hidup.
Upacara Dua Siklus Tahunan, yang berhubungan dengan alam, lingkungan dan upaya hidup pertanian dan perkebunan yakni: Pertama, upacara musim penghujan yang disebut Wulang Leleng, Kedua, upacara musim panen yang disebut Wulang Darang.
Upacara wulang leleng seperti doa dan upacara permohonan turunnya hujan berimbang, urang dara ma'a tibang atau agar kemarau itu jangan terlalu panjang.

Berkenaan dengan:

Pertanian/Perkebunan = Opi uma kare tua.
Penanaman bibit = Nona daruk
Penuaian basil = Eta poru
Perlumbungan = Mekot ronang
Perumahan = Laba lepo sorong woga
Peramuan hutan = Ou wua pata ta'a
Perhutanan = Roa tu'ang opiroing
Penolakan bala = Tung goit, eba go'it

Upacara wulang darang seperti Urang Dare Ma'aTibang di atas. Masih ada lagi:

Demu Lero Wulang = Penyilihan dose
Ehe Tahi Ano Lalang = Pelayaran/perdagangan
'Lereng Rabang = Perikanan
Pleur Nge Baler Sawe = Jual beli
Uterlege Ahu Welung = Perburuan

Sedangkan Upacara Tiga Siklus Daur Hidup-Hu'er Horeng Ata Bi’ang, dapat dicatat:

a. Kelahiran - Wua DetA E Doda. lnisiasi/Pengangkatan-HuerHereng Radun Blutuk seperti:

Kela Mitan = Pemberian nama anak
Rawing Ga = Pemberian makan dukun
Lodong Me = Menurunkan anak
Ro’it Alang =Mencukur rambut
Legeng Alang = Menggelung rambut
Eker Niung = Memotong gigi
Dong Pelang = Memberi pakaian kegadisan
Gareng Lameng = Penyunatan.

b.
Peminangan dan perkawinan - Lema Lepo 'Rawit Woga,terdiri:
Wua Ta'a Lema Lepo = Meminang
Tasser/Ling Welin = Penentuan bells
Tung Tatung = Pemberian makan
Tung Lipa Lensu = Penghantaran pakaian bagi si pria
Tung Kila Jarang = penghantaran cincin
Hakeng Kawit = Penentuan perkawinan Wotik Wawi Api, Ara Pranga = Perkawinan adat
Tama Ola Uneng = Masuk kamar pengantin
Hu'i = Mandi empat malam
Ngoro 'Remang = Pembersihan pasta
Dedung Lema Lepo = Menghantar/membawa isteri ke rumah pria

c. Kematian dan Pasca Kematian -Huer Hereng Ata Mateng Potat, terdiri:
Taru 'Luheng Bura = Pembawaan kain, lilin.
Tua Pole Wawi Rekot = Bantuan kematian
Bahar Lige Bala Loni = Belis kematian
Tani Not Tokang Peti = Nyanyian kematian, penutupan peti jenazah
'Lohor Gumang Hutu = Turun tanah kematian.
TaruNopok/Siko Ra'ing =pemberian balasan
Sumana Ha, Sumana Pitu = Minggu pertama dan ketujuh.


Upacara Musim Penghujan -Wulang Leleng, mempunyai rona dan pesona tersendiri di berbagai daerah di Sikka. Terutama karena sebagian besar pencluduk Sikka adalah petani (menggarap daratan dan laut). Khusus di Mbengu-Paga, musim menanam padi biasanya dengan ritus sarat ratap¬tangis hanya karena penghayatan atas padi yang adalah dua bersaudara yang dicincang dan ditanam kemudian tumbuh sebagai padi, yang disebut sebagai Bobi dan Nombi.
Dan juga Ritus Gawi yang unik bermuasalkan mitos Tiwu Sora, senantiasa digelar untuk memohon sesuatu yang menghidupkan sekaligus menolak bala-bencana.

Di sadur dari buku Pelangi Sikka
www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Flores Dalam Kisah Pertama Seorang Gadis..

Pulau Flores dikenal sebagai salah satu pulau yang miskin dan tertinggal, begitulah. Tapi dibalik kemiskinannya Flores menyimpan sejuta pesona yang tak pernah diketahui orang. Hal ini nampak dari cerita perjalanan Mbak Yeni yang ditulis secara gamblang diblog pribadinya. Kisah perjalanannya yang dipaparkan mbak yeni ini meski tak banyak dan detail semoga bisa menjadi sedikit panduan, mengintip perjalanan ke Flores bagi yang ingin berpetualang ke pulau yang sering disebut juga sebagai pulau ular, pulau bunga, pulau bergagang keris, pulau tsunami dan lain-lain.

===========================================================================
Dulu tak terpikirkan bisa menjejakkan kaki di tanah Flores karena bayanganku tentang pulau itu adalah daerah yang kering dan tidak menarik. Paling-paling yang kukenal dari Flores adalah danau-tiga-warna alias Danau Kelimutu yang tersohor itu. Dan kenalnya dengan Kelimutu juga karena jaman dulu foto danau tsb dipasang di uang seribu perak (hayoo… masih ingat gak?).

Ternyata bayanganku dulu itu sama sekali tidak benar sodara-sodara.

Keinginan untuk jalan-jalan ke Flores bermula dari melihat foto-foto pantai dan pemandangan alam Maumere yang dikirim oleh Oyan, seorang teman yang berasal dari Flores. Dari situ mataku mulai terbuka bahwa Flores menyimpan banyak pesona, tidak hanya Danau Kelimutu saja.

Bersama Enda, sohibku, rencana travelling bareng ke Flores pun mulai digagas. Sibuk deh mengumpulkan informasi, tanya sana-sini, termasuk pinjem buku Lonely Planet Indonesia dari perpus Tembagapura.

Setelah mematangkan rencana, dan beberapa kali nyaris batal, akhirnya yang ikut adalah aku sendiri, Adrian (suamiku), Enda, dan Nonie (kakaknya Enda). Sayangnya Mas Anum (suami Enda) tidak bisa ikut karena gak bisa ambil cuti. Kami sepakat untuk pergi dari tanggal 15 – 20 Mei 2009 untuk aku dan suami, sedangkan Enda & Nonie tambah extra 2 hari karena mau sekalian ke Pulau Komodo & Rinca.

Aku mau berbagi cerita tentang perjalanan kami ke Flores. Tapi, berhubung kapasitas wordpress agak terbatas, aku tulis kisahnya per bagian aja ya…

Hari Pertama: Maumere

Tanggal 15 Mei kami terbang dari Denpasar ke Maumere dengan pesawat Merpati (yang of course, pake acara di-delay 2 jam di Ngurah Rai). Sebelum berangkat, Nonie sudah berinisiatif booking hotel di Maumere sekaligus memesan penjemputan dari bandara.

Sampai di airport Maumere ada seorang pria (halah!) yang memegang kertas bertuliskan ‘Miss Nonie’. Yup, dialah orang yang menjemput kami. Namanya Dino Lopez. Dia bilang kalau namanya tercantum di buku Lonely Planet Indonesia sebagai experienced English speaking guide untuk area Flores. Dan ternyata di Lonely Planet bener ada nama dia lho…

Pertama, kami diajak ke ‘kantor’ yang sepertinya merangkap tempat tinggal Dino. Di situ kami diberi penjelasan tentang gambaran wisata Flores, sekaligus ditawari ‘paket’ wisata a la Dino Lopez. Untuk aku dan Adrian yang dari Maumere rutenya ke Moni – Bajawa – Labuhan Bajo (5 hari 4 malam) paket yang ditawarkan adalah Rp 1.750.000,- per orang, sementara Nonie & Enda yang lanjut ke Pulau Komodo & Rinca diberi harga Rp 2.750.000,- per orang (7 hari 6 malam). Harga itu sudah termasuk mobil, bensin, supir merangkap guide, dan akomodasi standar di masing-masing lokasi tujuan. Setelah sedikit nego, Dino memberi discount 250rb perorang. Sungguh harga yang cukup bersahabat.

Acara berikutnya di Maumere adalah berburu sunset. Setelah puas foto-foto sunset baru kemudian check in di hotel kecil pinggir pantai yang dinamai Gading Beach Resort. Harganya? Sembilan-puluh-ribu-rupiah permalam! Beneran. Fasilitasnya standarlah…shower air dingin, queen size bed, serta sebuah TV yang hanya mampu menangkap siaran dari 2 channel. Oia, sarapan udah termasuk di harga kamar lho…

Malam hari sesudah makan malam, kami pergi ke acara pesta pernikahan. Loh, kok bisa?

Iya, berkat kepiawaian Enda & Nonie beramah-tamah di pesawat, seorang bapak mengundang kita untuk hadir di acara pesta pernikahan ponakannya. Karena gak enak udah diundang dan penasaran gimana pesta pernikahan di Flores, kami datang juga ke pesta tsb. Yang pasti pestanya rame dan full menyanyi & dansa. Bahkan kami juga didaulat untuk menyanyi dan menari bersama.

Konon tradisi menyanyi dan berdansa itu diwariskan oleh bangsa Portugal dan Belanda pada jaman penjajahan dulu. Di pesta itu tua-muda-lelaki-perempuan lincah bergoyang.

Kalau tidak memikirkan esok harus berangkat pagi-pagi ke Moni, ingin rasanya kami tinggal lebih lama, ikut berpesta sampai pagi.

Hari ke-2: Maumere – Sikka – Pantai Paga – Moni

Hari kedua di Flores diawali dengan menikmati sunrise persis di pantai Gading Beach Resort. Semburat warna-warni yang mempesona mengiringi datangnya pagi bagaikan lukisan mahakarya seorang seniman. Entah mengapa, sunrise dan sunset dimanapun kita berada selalu punya daya tarik yang luar biasa.

Habis itu, kami mandi dan sarapan. Saat sarapan kami kenalan dengan seorang cewek. Namanya Jenna Thompson. Ni cewek cool gitu deh… asal dari Amrik, kerja jadi language trainer di Thailand, trus jalan2 ke Flores sendirian. Pagi itu kita tahu kalau jeung Jenna bakal tour barengan kita. Kesan pertama tentang Jenna? Pendiam. Beda banget sama rombongan kita yang rame. (Belakangan setelah travelling bareng baru ketauan kalau Jenna juga ternyata bisa rame dan ngocol. We miss you J…)

Dengan dua buah mobil kami memulai petualangan kami. Jenna & Dino di mobil depan, sementara kami berempat di mobil terpisah dengan supir namanya Pak Fransesco. Kami meninggalkan Gading Beach Resort sekitar pkl. 07.30 pagi.

Singgah di perkampungan nelayan yang rumah-rumahnya dibangun di atas air laut, kami disambut oleh anak-anak kecil yang luar biasa banci kamera… Lucunya kami semua dipanggil ‘miss’ oleh mereka. Selama kami di perkampungan itu ramai terdengar celoteh mereka “Miss, foto miss…” sambil langsung bergaya dengan mengacungkan dua jari membentuk symbol victory.

Dari perkampungan nelayan, perjalanan berlanjut ke Desa Sikka, salah satu desa yang masih memelihara tradisi membuat tenun ikat. Sesudah melihat-lihat satu gereja tua peninggalan Portugal, kami beruntung bisa menyaksikan tahap-tahap proses pembuatan tenun ikat oleh sekelompok ibu di desa itu. Dari mulai mengolah kapas menjadi benang, membuat pola tenun dg ikat, proses pewarnaan, sampai menenun benang menjadi sehelai kain. Yang menarik, untuk warna-warna kalem seperti indigo atau merah tua, warna tsb biasanya terbuat dari bahan alami. Sedangkan kalau warnanya cerah seperti biru terang atau pink, sudah pasti menggunakan pewarna buatan.

Kunjungan ke Sikka berbuntut memborong selendang atau syal tenunan yang berwarna-warni yang harganya terbilang murah bila dibandingkan dengan proses pengerjaan yang rumit dan memakan waktu. Satu syal rata-rata dilego dengan harga Rp 50.000,-

Puas memborong syal, kami melanjutkan perjalanan ke Moni. Untuk istirahat makan siang, Dino membawa kami ke Pantai Paga, sebuah pantai yang masih alami dengan sebuah (dan satu-satunya) warung makan yang dikelola oleh sepasang suami-istri separuh baya. Kabarnya dulu pernah akan dibangun hotel resort di pantai tsb, tapi sejak bom Bali yg mengakibatkan jumlah wisatawan ke Flores menurun, yang bertahan tinggal sepasang suami istri pengelola warung itu saja. Di dekat pantai ada beberapa bangunan sederhana yang bisa disewa untuk penginapan.

Sambil menunggu pesanan, Jenna, Enda, Nonie dan Adrian memutuskan untuk mandi di pantai. Aku tidak ikut mandi…cukup duduk-duduk di pantai dan sesekali memotret saja.

Sekitar 45 menit kemudian, makanan pesanan kami dihidangkan…ada ikan tongkol bakar, tumis sayuran segar, nasi putih… dan setiap orang diberi sepiring kecil sambal cabe yang pedasnya benar-benar nendang! Mungkin karena bapak pemilik warung merasa tertantang ketika kami memesan makanan kami bilang, “Sambelnya yang pedes ya Pak…”

Walaupun menu makan siang kami tidak begitu luar biasa tapi rasanya cukup mak nyuss dan sambelnya yang pasti sukses membuat mulut & lidah berdesis kepedasan.

Dari Pantai Paga kami meluncur ke Moni. Perjalanan yang cukup panjang serta duduk di mobil memang cukup melelahkan. Tapi kelelahan kami terbayar dengan melihat keindahan alam di sepanjang jalan yang kami lalui. Panorama laut berpadu dengan gunung yang menghijau serta sawah yang membentang benar-benar memanjakan mata.

Hari sudah sore ketika kami tiba di Moni yang termasuk daerah dataran tinggi. Dino membawa kami ke Losmen Hiddayah, sebuah penginapan dengan sawah dan kebun sayuran di sekelilingnya. Salah satu karyawan losmen dengan rambut a la Bob Marley menghidangkan minuman panas (teh manis & kopi). Cocok diminum untuk udara Moni yang dingin.

Sekitar pkl. 18.30 kami menikmati makan malam di teras losmen. Sambil makan Dino berkisah. Sebagian tentang legenda-legenda dan mistik di Flores yang kami simak dengan penuh perhatian.

Selesai makan Dino menawarkan apakah kami berlima (Enda, Nonie, Jenna, Adrian dan aku sendiri) berminat untuk berendam di sumber air panas alami alias hotspring yang letaknya hanya beberapa kilometer dari penginapan kami. Semua setuju. Siapa yang menolak kenikmatan mandi air panas di daerah dingin seperti Moni? Apalagi air yang tersedia di penginapan hanyalah air dingin yang berasal dari sungai.

Berangkatlah kami ke sumber air panas diantar oleh Dino, berdempet-dempetan di satu mobil. Sambil lalu Dino bilang kalau sumber airpanas-nya di tengah sawah.

Sekitar 20 menit kemudian, Dino memarkir mobil di pinggir areal persawahan yang gelap. Boro-boro lampu penerang jalan, senter saja ternyata cuman ada satu di mobil. Terbengong-bengong kami digiring berjalan melewati pematang sawah yang sempit dan licin. Akhirnya, walaupun dengan terpeleset berkali-kali, sampai juga kami di hotspring yang fenomenal itu. Dari cahaya senter, samar-samar bisa dilihat hotspring tsb menyerupai kolam kecil dengan air jernih setinggi lutut yang bisa menampung sampai 10 orang berendam bersama. Uap hangat terlihat membungkus permukaan kolam, menggoda kami untuk segera menceburkan diri.

Membenamkan tubuh yang penat di hangatnya air kolam, di bawah naungan kerlap-kerlip bintang di langit, membuat kami lupa akan susah-payahnya perjalanan menuju kolam itu. Air kolam yang tidak terlalu panas memberikan sensasi kesegaran yang menyenangkan.

Satu rekomendasi bagi siapa saja yang berminat untuk mencoba spa alam a la Moni itu, berangkatlah kala matahari belum tenggelam… Atau, kalaupun mau pergi malam-malam, jangan lupa berbekal penerangan yang cukup. Membawa satu senter saja untuk 6 orang sungguh tidak disarankan :)

Hari ke-3 : Danau Kelimutu

Pagi-pagi sekitar jam 4, Dino mengetuk kamar-kamar kami dengan penuh semangat. Ya..ya… agenda pertama kami di hari ke-3 adalah melihat Danau Kelimutu yang terkenal itu.

Kata si Dino dan juga rekomendasi beberapa teman, kalau mau pergi ke Kelimutu mendingan pagi-pagi. Selain bisa melihat matahari terbit dari pegunungan dimana ketiga danau multiwarna itu berada, juga untuk menghindari kabut yang suka datang mulai jam 9an pagi.

Dari penginapan kami naik mobil terlebih dahulu dan berhenti di satu area yang cukup luas yang digunakan untuk tempat parkir mobil. Perjalanan menuju danau dilanjutkan dengan berjalan kaki. Ada beberapa rombongan pergi ke Kelimutu pagi itu. Seorang bapak yg merupakan penduduk setempat turut berjalan bersama rombongan. Berjaket biru dan mengenakan sarung tenun warna indigo, sang bapak membawa tas yang didalamnya ada termos berisi kopi panas yang nanti akan dijual ke pengunjung Kelimutu. Dia juga membawa beberapa selendang tenunan khas Flores yang juga dijual sebagai souvenir.

Bau belerang menyergap indra penciuman ketika kami sudah mendekati ketiga danau Kelimutu. Setelah mendaki ratusan anak tangga, kami sampai di tempat yang berbentuk seperti panggung (cenderung mirip monumen sih…), yang khusus dibuat untuk duduk menikmati matahari terbit. Di kedua sisi panggung yang menghadap ke dua danau dibuat masing-masing sekitar 11 undakan tangga untuk duduk-duduk. Untuk pengaman, dipasang pagar pembatas supaya pengunjung tidak berjalan terlalu dekat ke pinggiran danau.

Masing-masing dari kami kemudian siap dengan kamera di tangan, menanti saat-saat matahari muncul di ufuk timur. Samar-samar terlihat warna biru turquoise salah satu danau di depan kami.

Si bapak berjaket biru juga lincah menawarkan kopi. Kubeli segelas kecil. Harganya kalau tidak salah 10 ribu rupiah.

Menyeruput kopi-hitam-kental-manis sambil menikmati pesona mentari yang perlahan bergerak naik dari balik gunung, di antara 3 danau warna-warni, sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Sambil sesekali menjepretkan kamera, mataku berusaha menangkap sebanyak mungkin pesona alam yang tersaji.

Sesudah matahari naik, kami memuaskan ke-narsis-an kami, berfoto dengan latar belakang salah satu danau kelimutu yang berwarna biru turquoise. Danau berikutnya yang letaknya berdampingan dengan si danau turquoise berwarna hijau gelap, sepintas mirip warna coca-cola. Sayangnya danau ketiga yang kabarnya saat itu berwarna putih tertutup kabut tebal.

Nama ketiga danau tsb adalah Tiwu Ata Polo (danau hijau gelap), Tiwu Nua Muri Koo Fai (danau biru turquoise), dan Tiwu Ata Mbupu (danau yang tertutup kabut).

Berdasarkan kepercayaan setempat, ketiga danau Kelimutu itu adalah tempat tujuan roh orang ketika meninggal. Danau mana yang dituju tergantung dari umur dan tingkah laku orang tersebut ketika hidup di dunia.

Keunikan lain dari Danau Kelimutu adalah warnanya yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa tanda-tanda alam sebelumnya. Beberapa tahun lalu warna ketiga danau tsb. adalah biru, coklat kemerahan dan hijau tua kehitaman. Menurut info belum ada ilmuwan yang bisa menjelaskan secara pasti apa yang menyebabkan perubahan warna danau. Yang pasti kandungan asam ketiga danau tsb sangat tinggi sehingga jangan coba-coba iseng mencoba berenang di salah satu danau itu.

Sesudah dari Danau Kelimutu kami sarapan banana pancakes di penginapan, kemudian mandi di sungai yang ada air terjunnya. Rasanya dingin menyegarkan walaupun warna airnya tidak bisa dibilang jernih. Well…kami hanya punya dua pilihan, mandi dengan air sungai tsb. atau tidak mandi seharian sampai tiba di Bajawa.(http://yeniunique.wordpress.com.)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Sunday, 31 January 2010

Canabis Band, Rendah Hati Untuk Sebuah Prestasi

Canabis Band yang terbentuk sejak tahun 2006 tak hanya dicintai kaum remaja namun juga disukai kalangan dewasa di Kabupaten Sikka. Band indie ini terus mencoba menjadi salah satu group band beraliran reggae yang bisa mewarnai blantika musik Indonesia nantinya. Meski harus mengalami reposisi player beberapa kali band asal kawasan Misir Kota Maumere ini mencoba terus eksis dan setia pada jalur yang digelutinya. Dengan para personil terbaru saat ini yakni Elbit (Vokal), Rony (Guitar Melody), Deniz (Guitar Rhytim), Gomez (Bass), Vian (Keyboard), Piter (Vokal Latar) Canabis Band tak berhenti untuk terus mengekspresikan dan menyuarakan cinta dan perdamaian lewat musik reggae sekaligus menghibur fans beratnya. Dalam karier bermusiknya Canabis Band telah mengantongi banyak prestasi. Satu diantaranya adalah ketika terpilih sebagai group band terfavorit pada Parade Band Djarum LA Lights yang di gelar baru-baru ini di Maumere. Berangkat dari beberapa prestasi itulah, mereka berharap bisa memiliki album reggae sendiri.

“Ini bukan sebuah mimpi, karena kami pun sedang mempersiapkan beberapa lagu. Ya sambil berharap ada mau yang mendukung produksinya,” ungkap Elbit sang vokalis.

27 September 2006 adalah awal berdirinya Canabis Band. Pungawa band ini semula ditempati Elbit (Vokal), Iron ( guitar utama), Vian (Bass), Ary (Rhythim), Andre (Drum). Band yang mereka awaki pelan-pelan mulai terdengar gaungnya. Tembang-tembang reggae yang dibawakan diminati oleh anak-anak muda. Kapan saja dan dimana saja tampil Canabis Band selalu menarik perhatian. Apalagi musik beraliran reggae begitu disukai oleh kaum muda Maumere. Namun seiring waktu, Canabis Band juga mengalami keretakan. Beberapa punggawa awal Canabis Band memilih hengkang. Pergantian personil dibeberapa posisi terjadi hingga akhirnya mendapatkan ‘feel’pada para pemain anyar terkini.

Bagi Canabis Band, permainan musik mereka terinspirasi pada dedengkot reggae seperti Bob Marley, Lucky Dube dan Big Mountain. Meski suka pada reggae dan mencoba untuk tetap eksis dijalur ini mereka mengaku tak mengikuti jejak band lain yang kadang melakukan ritual menghisap ganja sebelum tampil.
"Kami sadar banyak yang mengatakan reggae begitu indentik dengan ganja tapi bagi kami ganja hanyalah sebuah tanaman suci, tak lebih. Kami tak akan pernah melakukan ritual seperti band-band lain” ucap Rony sang gitaris yang sebelumnya menyukai musik punk. “Bermusik reggaelah dengan jiwa (soul) tanpa ganja,”tambahnya.

Band reggae yang dimotori oleh Elbit ini memiliki keinginan untuk menjadikan reggae sebagai salah satu musik perdamaian khususnya di Kabupaten Sikka ini.
“Biarkanlah kami bersuara dengan cinta demi kabupaten ini, karena dengan cinta dan reggae kita bisa membangun Sikka bersama-sama tanpa rasa ego dan fanatik kedaerahan,”ujar Elbit yang diamini para personil lainnya.
Saat ini Canabis Band selalu berlatih rutin tiga kali seminggu di studio musik yang disewa secara urunan.

Prestasi
- Juara Pertama (I) Festival Band HUT Katedral
- Juara III Festival Band FLORATA (Flores-Lembata) di Maumere
- Juara III Festival Band FLORATA (Flores-Lembata), Sumba di Ende
- Juara I (Satu) Parade Band Djarum LA Ligth’s di Maumere
- Dan lain-lain


Salah Satu Video saat tampil di sebuah Parade Band



Bergabung di Fansclub Facebook Canabis Band


www.inimaumere.com



Selengkapnya...

Cabo da Flores

Flores. Berasal dari nama pemberian bangsa Portugis yang berarti Bunga. Berada di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan 8 daerah pemerintahan setingkat kabupaten. Kabupaten Sikka yang beribukota Maumere adalah salah satu dari 8 kabupaten tersebut.
Hampir seluruh dasar laut pulau itu dipenuhi terumbu karang warna-warni, beserta aneka ragam satwa laut yang juga kaya warna. Bersih dan bening, di beberapa area yang dangkal semburat hijau tosca menyembul di sela-sela kemilau biru samudera, berhias taburan batu granit dan karang berwarna perak disiram ombak yang membuih di bentangan pasir putih. Indah bak permata… Cantik tiada tara…!

Ketakjuban akan pesona alam itulah yang mengilhami para pelaut Portugis menyebut pulau yang baru disinggahi, sekitar awal abad ke-15 silam, sebagai Cabo da Flores. Ketika itu, para pelaut Portugis yang berlayar dari Macao (Malaka) singgah di Tanjung Bungan, ujung timur Pulau Flores sekarang. Tanjung Bungan dalam bahasa setempat berarti Tanjung Indah, untuk melukiskan keindahan fauna dan taman laut di tanjung itu.

Karena terpesona oleh keindahannya, pelaut de Elcano (catatan lain menyebut SM Cabot) menerjemahkan kata bunga(n) menjadi flores, maka dinamakan Cabo da Flores atau Tanjung Bunga(n). Sejak saat itu, nama pulau yang terletak di sebelah utara lautan Hindia dan Pasifik itu dikenal dengan nama Flores, yang terdengar janggal bagi telinga orang Melayu. Nama itu kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer.

Menurut antropolog Pater Piet Petu SVD dalam bukunya Nusa Nipa, Nama Pribumi Nusa Flores Warisan Purba (1969), jauh sebelum kedatangan para pelaut Portugis, pulau ini sudah memiliki nama pribumi sendiri. Orang Manggarai menyebut Nuca Nepa Lale (Pulau Ular/Naga yang Indah). Orang Ngada dan Ende menamai Nusa Nipa, dan orang Sikka menyebut Nuhan Nagasawaria. Bagi orang Larantuka menamai Nuha Ula Bungan (Pulau Ular/Naga yang Suci). Semua sebutan itu melukiskan pulau ini sebagai Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular atau Pulau Naga. Alasan penyebutan Nusa Nipa karena di pulau ini banyak dijumpai ular. Bila mengamati peta pulau ini, segera tampak gambaran seekor ular/naga yang sedang tidur, dengan kepala di ujung timur (Tanjung Bunga/Larantuka) dan badan/ekor yang melilit di ujung barat
(Manggarai).

Nenek moyang pulau ini mempunyai keyakinan, jika seseorang bertemu ular atau didatangi ular, maka ia akan memperoleh rezeki. Bahkan, ular dianggap sebagai dewa atau titisan arwah leluhur oleh marga tertentu. Oleh karena itu, sampai sekarang masih dipegang kepercayaan jika ular memasuki rumah atau berhenti di ladang, maka oleh tuan rumah atau pemilik ladang tak akan diusir, dilukai, atau dibunuh. Sebaliknya, ular itu akan dibentangkan sarung serta dihidangkan makanan berupa telur dan beras mentah. Konon hingga kini, sesewaktu masih dijumpai ular/naga sebesar dan sepanjang batang pohon kelapa yang melintasi jalan di suatu areal pegunungan atau hutan yang lebat.

Menurut para tetua adat setempat, nama pribumi Nusa Nipa tersebut memberi daya magis tersendiri bagi masyarakatnya dengan karakter pemberani, gagah, perkasa, cerdas, gesit dan lincah ketika menjelajahi wilayah pegunungan yang terjal dengan sungai yang berkelok-kelok mengitari deretan perbukitan atau mengarungi hamparan lautan luas dengan pusaran gelombang yang menantang sekaligus menyimpan taman laut yang menawan.

Itulah sebabnya pernah muncul wacana di kalangan pemerhati kebudayaan lokal untuk mengembalikan nama pulau itu ke nama pribuminya, Nusa Nipa. Alasannya, nama Flores yang sudah hidup hampir lima abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan flora yang dikandung oleh pulau ini. Selain itu, nama Flores dirasa lebih berkesan halus, lembut, indah, tapi kurang ”berenergi”. Kesan indahnya nama Flores, menurut para pemerhati kebudayaan lokal tersebut, secara sosial-psikologis telah memberi gambaran masyarakat yang cenderung lembut dan indah tapi kurang berkarakter pemberani, gagah, perkasa, cerdas, gesit dan lincah seperti gambaran sosok para leluhur Nusa Nipa dahulu, sebagaimana dilukiskan dalam berbagai legenda rakyat setempat. Dari sudut antropologi, nama Nusa Nipa mengandung berbagai makna filosofis, kultural dan ritual masyarakatnya.

Sebelum bernama Flores, Nusa Nipa sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Posisinya cukup strategis karena menjadi jalur lintasan perdagangan kayu cendana dari Pulau Timor ke Cina dan ke India. Hal ini membuat Kerajaan Gowa, Kerajaan Ternate, Bangsa Portugis, Belanda dan Jepang berebut untuk menguasai pulau ini. Namun, tak satu pun di antara mereka benar-benar berhasil menaklukkan para raja atau kapitan yang menguasai suatu wilayah setempat.

Para pendatang tersebut berusaha menanamkan pengaruhnya di wilayah pesisir, tetapi hanya sedikit yang dapat menyentuh daerah pedalaman karena terhalang oleh deretan pegunungan terjal dengan sungai yang berkelok-kelok di dasarnya. Kini daerah pedalaman Flores sudah lebih mudah dicapai dengan adanya jalan yang naik-turun membelah gunung dan berkelok-kelok mengitari perbukitan dengan tebing yang menjulang tinggi di satu sisi dan di sisi lainnya terbentang jurang dengan kedalaman puluhan meter. Sungguh sebuah perjalanan yang fantastik bagi mereka yang gemar berpetualang.

Lukisan Alam
Flores berada dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan luas wilayah 14.300 kilometer persegi.

Beberapa ikon pariwisata di Flores antara lain: Varanus Komodoensis di Kabupaten Manggarai Barat (termasuk Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo dan Pulau Rinca), taman laut 17 pulau di Riung dan perkampungan tradisional Bena di Kabupaten Ngada, danau tiga warna Kelimutu (Taman Nasional Kelimutu) di Kabupaten Ende, taman laut Waiara Maumere di Kabupaten Sikka, tradisi religi Portugis “Semana Santa” di Larantuka Kabupaten Flores Timur, dan tradisi penangkapan ikan paus di Lamalera Kabupaten Lembata. Selain itu terdapat berbagai situs, artefak, tradisi maupun panorama alam yang dapat dinimati di berbagai daerah Flores.

Misalnya, panorama alam perbukitan yang hijau dan teduh pada musim hujan akan segera berganti dengan sabana yang menguning kecoklatan pada suatu siklus kemarau yang panjang. Namun, kehangatan dan keramahan masyarakat dari etnik campuran Melayu, Melanesia, dan Portugis serta decak kagum akan keindahan alamnya seakan silih berganti mengiringi perjalanan menjelajahi pulau sepanjang 375 km ini. Sebuah lukisan alam dan kebudayaan yang menakjubkan, dari timur hingga ke barat atau sebaliknya!(pgobang)

www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Monday, 25 January 2010

Bandara Wai Oti ; DonThomas, L. Say dan Frans Seda

Oleh karena itu dalam suatu percakapan lepas di rumah kediamannya Jl Don Thomas Maumere, Frans Seda pernah berkata dengan tulus dan polos “adalah tepat kalau Bandara Waioti diberi nama Don Thomas
Kabupaten Sikka juga harus memberi penghargaan dan penghormatan kepada L. Say, pemimpin yang sudah berjasa bagi kabupaten ini. Torehlah namanya di Pelabuhan Laut Maumere dengan nama L. Say. Berilah nama jalan kepada banyak tokoh Kabupaten Sikka yang berjasa secara nasional dan regional seperti: Ben Mangreng Say, Bung Kanis, P.H. Embuiru, P. Piet Petu, P. Osiaz Fernandez, Mgr Abdon Longginus da Cunha, P.J. Bapa Mekeng, Pieter Pedor, Fredrik Djati, Drs A.M. Konterius dan lain-lain.
+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +
*Oleh : E.P da Gomez

DALAM catatan sejarah perjalanan Kabupaten Sikka, bandar udara (bandara) Maumere yang terletak di sebuah “klo’ang” bernama Waioti, mulai dibangun pada masa pemerintahan militerisme Jepang, tahun 1943-1944. Tatkala itu, Don Yosephus Thomas Ximenes da Silva (1895-1954), Raja Sikka ke-15 (1920-1954) bertindak menunjuk lokasinya dan mengerahkan rakyat dari kampung-kampung secara bergilir turun bekerja membangun landasan udara yang hendak digunakan penguasa Jepang untuk kepentingan militer dan perang. Bandara ini dibom sekutu tanggal 28 Juli 1944. Jepang membangun juga sebuah lapangan udara di Tanjung Darat, di pantai utara Kecamatan Talibura, yang kini sudah menjadi kebun rakyat.

Sesudah Perang Dunia II usai, Bandara Waioti dengan kondisinya yang sederhana digunakan untuk kepentingan pemerintahan dan pelayanan publik. Hanya dengan lapangan berumput saja dan fasilitas terminalnya sangat minim, namun menjadi pusat pelayanan udara untuk pemerintah dan masyarakat seluruh Flores, jauh sebelum adanya lapangan udara di Ruteng, Ende, Labuan Bajo, Bajawa, Larantuka dan Lewoleba, yang mulai dibangun secara bertahap sejak awal tahun tujuhpuluhan.

Pada awal tahun 1971, Bupati Sikka L. Say (1967-1977) memprakarsai pembenahan fasilitas bandara Waioti, dengan pekerjaan antara lain memindahkan ruas jalan lama dekat jembatan Waioti ke ruas jalan sekarang, dan membangun berbagai fasilitas terminal. Berbarengan dengan Frans Seda menjadi Menteri Perhubungan (1968-1973), L. Say menggunakan kesempatan yang baik itu, menarik perhatian Frans Seda membangun berbagai fasilitas pelabuhan udara yang lebih representatif. Menhub Frans Seda memenuhi dengan semangat akan tekad L. Say. Departemen Perhubungan segera mengembalikan seluruh biaya yang sudah dikeluarkan pemerintah Kabupaten Sikka untuk pembangunan awal. Selanjutnya Menhub Frans Seda memberikan perhatian untuk pembangunan berbagai fasilitas sesuai standar kebutuhan sebuah bandara tingkat kabupaten.

Dari periode ke periode pemerintahan, sejak Bupati L. Say hingga Bupati Sosimus Mitang, upaya peningkatan fasilitas bandara Waioti selalu mendapat perhatian, baik melalui alokasi dana APBD Kabupaten Sikka, maupun dari hasil perjuangan melalui biaya APBN, sehingga kondisi landasan dan fasilitas bandara Waioti sudah semakin baik, meskipun kualitas dan penampilannya masih di bawah bandara El Tari Kupang.

Semenjak hadirnya di bumi Kabupaten Sikka, bandara ini tidak punya nama. “Waioti” itu hanyalah nama sebuah “klo’ang”, sebuah perkampungan kecil dengan nama pribumi setempat (wai = kali, sungai; oti = biawak). Di situ memang ada sebuah kali kering, yang mungkin saja pada masa yang lalu mengalir air keruh, tempat biawak-biawak berenang dan berkumpul ramai.
Sejak tahun 1984, pada masa pemerintahan Bupati Sikka Drs Daniel Woda Pale, sudah mengudara aspirasi dan semangat untuk memberi nama Don Thomas bagi bandara Waioti. Namun semangat itu tidak berlanjut karena Don Thomas adalah seorang tokoh kontroversial dalam nuansa kepolitikan lokal. Hasrat untuk membaptis nama Don Thomas terhenti, belum bisa diwujudnyatakan, menanti timing yang tepat.

Mengapa Don Thomas? Don Thomas adalah peletak dasar pembangunan Kabupaten Sikka. Kenyataan ini tak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Raja Sikka ke-15 ini (1920-1954), dalam kurun waktu 30 tahun masa pemerintahannya, telah membangun ruas jalan dan jembatan, ”proyek” air minum dalam bentuk sumur/perigi di beberapa kampung, pipa air minum dari Wairpuang ke Kota Maumere, melanjutkan budidaya penanaman kelapa yang sudah dirintis raja terdahulu, mendirikan pasar di lokasi yang strategis, pembangunan di bidang pertanian dan irigasi.

Di bidang pendidikan, Don Thomas bekerja sama dengan Pimpinan Gereja Katolik membangun sekolah-sekolah desa, mendirikan Yayasan Pendidikan Thomas (Yapenthom) yang mengawali sebuah SMP yang terkenal di Flores pada tahun 1949, menunjuk lokasi Ledalero di mana Gereja Katolik mendirikan Seminari Tinggi Ledalero, mendukung pembangunan awal rumahsakit Lela, dan merancang peta pembangunan kota Maumere. Semuanya itu boleh dibaca dalam buku “Don Thomas, Peletak Dasar Sikka Membangun” (E.P. da Gomez & Oscar P. Mandalangi, Yapenthom Maumere, 2003/2005/2006).

Sangatlah tepat kesan Tasuku Sato, Komandan Angkatan Laut Kerajaan Jepang yang bertugas di Flores tahun 1943-1945, mengagumi Don Thomas, antara lain : ”Raja Sikka merupakan tokoh yang amat penting di Flores. Bukan saja karena daerah Sikka yang dibawahinya memang lebih terkemuka dari yang lainnya, tapi karena dia juga adalah tokoh yang berwibawa. Kelihatannya setengah tua, cermat dan bijaksana. Saya sangat berkesan akan sikapnya yang meyakinkan dan wajahnya yang coklat dan keren yang menunjukkan bahwa ia seorang yang berkepribadian dan sungguh-sungguh” (dalam buku “I Remember Flores” karya tulis Kapten Tasuku Sato & P. Mark Tennien, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Thom Wignyanta dengan judul “Aku Terkenang Flores” Penerbit Nusa Indah Ende, 1976/2005).

Apa yang telah dikerjakan selama 30 tahun masa pemerintahan Don Thomas, jika dilihat dengan kacamata masa depan, sesungguhnya merupakan bagian yang mendasar dari tahap-tahap awal bagi terwujudnya berbagai gagasan dan cita-cita pembangunan masa kini dan masa depan. Kita boleh menyimpulkan bahwa sejarah sangat sabar, dan bahwa generasi yang datang silih berganti akan bisa menilai tentang seorang Don Thomas sebagai pemimpin memang bertugas untuk melihat sangat jauh ke depan. Atau barangkali ia memang bukan politikus seperti pemahaman yang dianut James Freeman: “Seorang politikus memikirkan soal pemilu yang akan datang, tapi seorang negarawan memikirkan generasi yang akan datang”.

Jauh dari pretensi untuk membanggakan seorang Don Thomas, atau berusaha untuk menghapus jejak kekurangannya dalam bobot kepemimpinannya pada waktu lampau (ia dicap feodalis dan nepotis yang kental), namun patut diakui dan disadari bahwa gagasan dan pelaksanaan pembangunan yang diletakkan Don Thomas sungguh strategis dan tidak pernah usang sampai kini. Ketokohannya tampak hadir secara meyakinkan karena kemampuannya menempa diri, menerobos pagar besi yang menghadang, dan dengan penuh keteguhan mengusung panji-panji keutamaan atas cita-citanya yang luhur berdimensi masa depan.

Justeru itu, Frans Seda dalam kata pengantar buku “Don Thomas Peletak Dasar Sikka Membangun”, menulis sebagai berikut: “Raja Sikka Don Thomas adalah seorang tokoh kontroversial dan multidimensi. Seorang yang memiliki bakat-bakat dan kemampuan kepemimpinan secara alami. Seorang pandai besi, yang pandai pula menempa suatu pemerintahan daerah secara modern. Seorang raja yang mampu memimpin kerajaannya menjadi solid sebagai kesatuan yang kuat. Beliau adalah pula seorang modernisator yang memiliki wawasan-wawasan dan persepsi-persepsi yang luas dan maju ke depan”.

Oleh karena itu dalam suatu percakapan lepas di rumah kediamannya Jl Don Thomas Maumere, Frans Seda pernah berkata dengan tulus dan polos “adalah tepat kalau Bandara Waioti diberi nama Don Thomas”.

Itulah penilaian Frans Seda, seorang sarjana ekonomi tamatan Katholieke Economische Hogeschool Tilburg, Belanda (1956) terhadap Don Thomas, seorang raja yang hanya menamatkan pendidikan Standaarschool kelas lima di Lela (1910) dan pada usia 15 tahun bekerja keras sebagai tukang kayu dan tukang besi di bengkel Misi di Lela.

Frans Seda, demikian pula V.B. da Costa dan Ben Mang Reng Say, trio Kabupaten Sikka berkaliber nasional pada zamannya, adalah rahmat Tuhan bagi rakyat dan bangsa Indonesia melalui bidang politik sebagai pilihannya dan moralitas Katolik sebagai landasannya. Bagi masyarakat Flores, Seda-Sentis-Say, adalah personifikasi demokrasi dan integrasi etnis Flores dan golongan Katolik ke tengah kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Kita semua tahu bahwa Frans Seda adalah seorang tokoh Partai Katolik di tingkat nasional (1956-1973) dan Penasehat PDI dan PDI Perjuangan (1973-20009). Semenjak pulang dari studinya di Belanda (1956), hampir seluruh kegiatan Frans Seda diserap dalam “karya kerasulan” Partai Katolik. Naiknya beliau ke jenjang tertinggi partai kontas itu, banyak sangkut pautnya dengan kemelut politik nasional yang bergejolak sejak akhir tahun 1956, suatu peralihan yang menentukan sejarah Indonesia. Di sinilah berawal karier Frans Seda sebagai pemimpin tertinggi Partai Katolik, dan berbarengan dengan itu Presiden Soekarno mengangkat beliau menjadi Menteri Perkebunan (1964-1966). Ketika terjadi peralihan kekuasaan ke tangan Soeharto, Frans Seda menduduki kursi pemerintahan selama 12 tahun pada masa awal Orde Baru sebagai Menteri Pertanian merangkap Menteri Perkebunan (1966), Menteri Keuangan (1966-1968), Menteri Perhubungan & Pariwisata (1968-1973), Duta Besar RI untuk Belgia, Luxemburg dan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE, 1973-1976), dan terakhir sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA, 1976-1978).

Dalam penugasan sebagai pejabat negara dan kiprahnya sebagai politisi nasional, Frans Seda telah berbuat banyak untuk bangsa dan negara. Selain itu, beliau adalah salah seorang yang mendirikan Unika Atma Jaya Jakarta (1960), menerbitkan harian Kompas (1965), mendirikan Rumahsakit Atma Jaya di Pluit Jakarta (1973), dan berbagai yayasan/lembaga pendidikan dan ekonomi. Frans Seda juga terkenal sebagai kolumnis suratkabar yang cerdas dengan tulisan-tulisannya yang sangat menarik, menyentuh dan menukik.

Antara tahun 1956 sampai 1971 saya mendapat kesempatan dalam berbagai pertemuan dan kegiatan dengan Pak Frans Seda. Mulai dekat dan akrab sejak Pemilu 1971, ketika saya terlibat dalam kampanye “kontas” untuk memenangkan Partai Katolik di Kabupaten Sikka. Sejak itu terjalin keakraban dan persaudaraan sampai dengan wafatnya tanggal 31 Desember 2009. Tiga puluh delapan tahun, bukan waktu yang pendek. Banyak orang mengenal dan dikenal Frans Seda, khususnya di Kabupaten Sikka ini. Kecuali keluarga serumpunnya, mungkin di Sikka tidak ada sepuluh orang yang sangat akrab dengan beliau. Saya termasuk dalam sepuluh orang itu. Sebab itu saya terdorong untuk menulis sebuah buku kecil setebal 135 halaman untuk menginformasikan kepada khalayak tentang siapa itu Frans Seda, dalam judul “Drs Frans Seda 80 Tahun: Catatan Perjalanan Seorang Pejuang” (Yayasan Kasimo Cabang Sikka & Yayasan Dobo Nualolo Maumere, September 2006). Buku itu bukanlah sebuah biografi. Lebih tepat disebut saja sebagai catatan sekilas tentang perjalanan hidup, karya dan perjuangan tokoh tiga zaman itu. Karena isi buku ini saya angkat dari pengalaman bersama beliau, sambil memetik, merangkum, meringkas dan mengintisarikan dari banyak sumber naskah/buku, dengan tekad yang tulus dan niat yang lurus untuk memaknai HUT ke-80 ekonom senior itu, tanggal 4 Oktober 2006.

Di sisi lain, saya bersama Oscar P. Mandalangi menulis sebuah buku biografi Don Thomas setebal hampir 400 halaman. Buku yang terbit tahun 2003, lalu dicetak ulang tahun 2005 dan 2006 itu, didukung dengan komentar dari 16 orang tokoh Kabupaten Sikka yang tahu dan dekat dengan Don Thomas sebagai keluarga, politisi, tokoh masyarakat, bahkan lawan politik Don Thomas.

Banyak suara-suara sumbang terhadap kepribadian, ketokohan dan kepemimpinan Don Thomas. Benturan dan konflik kepentingan dalam konteks riwayat seorang tokoh dan kepemimpinannya dalam sejarah perjalanan Kabupaten Sikka ini, dengan latar belakang dan persepsi yang berbeda, adalah hal yang wajar dan lumrah sebagai bagian dari sifat manusia, apalagi dalam sebuah negeri yang menganut paham demokrasi. Masalahnya, bagaimana kita berkemauan untuk menempatkan soal secara lebih proporsional. Siapapun mempunyai hak untuk tidak menyukai Don Thomas. Namun, siapapun juga tidak punya wewenang yang sah untuk menggelapkan peran dan prestasi Don Thomas dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pembangunan Kabupaten Sikka ini pada masa pemerintahannya. P. Dr Paul Budi Kleden, SVD, dosen STFK Ledalero dalam orasi ilmiahnya pada tanggal 29 Desember 2003 di Hotel Maiwali Maumere, antara lain menegaskan “Don Thomas adalah peletak dasar Sikka membangun. Dia bukanlah satu-satunya tokoh pembangun Sikka. Dia meletakkan dasar mental membangun. Dengan itu setiap warga masyarakat Sikka dalam berbagai peran, kedudukan dan kemungkinannya, diajak untuk menjadi pembangun Sikka, pelaku sejarah di kabupaten ini”.

Untuk membuat sejarah terhadap sejarah perjalanan Kabupaten Sikka, kita dihadapkan dengan tugas sejarah untuk memberi nama Bandara Waioti. Dua tokoh sejarah terkemuka yang menjadi kebanggaan rakyat Kabupaten Sikka, tokoh yang menjadi idola banyak orang, Don Thomas atau Frans Seda menjadi pilihan nama tersebut.

Don Thomas adalah seorang raja yang feodalis, hidup dalam zaman yang memiliki peluang dan fasilitas yang sangat minim, namun telah menjadi pemrakarsa dan perintis pembangunan Bandara Waioti. Ia seorang pionir. Sementara Frans Seda adalah pelanjut, memiliki gagasan yang cemerlang dan modernisator pembangunan. Frans Seda sebagai salah seorang arsitek ekonomi modern Indonesia, seorang politisi Katolik yang beken, piawai dan bermoral, pendekar di bidang pendidikan, pendiri harian Kompas yang ternama, penulis kolom suratkabar yang jempol, dan selaku pengukir rautan wajah Gereja Katolik di Indonesia, sudah dapat dinilai pada takaran nasional yang berdimensi sejarah.

Sebab itu, apabila Pemerintah dan DPRD Kabupaten Sikka hendak membuat keputusan tentang nama Bandara Waioti, hendaknya didahului dengan membuka sebuah forum pembicaraan dan pembahasan yang mendalam dan luas dengan mengikut sertakan banyak komponen masyarakat Kabupaten Sikka. Dengan demikian keputusan yang akan diambil, benar-benar melalui pengamatan dan penilaian yang saksama, cermat, arif dan bijak, aspiratif dan dapat dipertanggungjawabkan kepada sejarah.

Kabupaten Sikka juga harus memberi penghargaan dan penghormatan kepada L. Say, pemimpin yang sudah berjasa bagi kabupaten ini. Torehlah namanya di Pelabuhan Laut Maumere dengan nama L. Say. Berilah nama jalan kepada banyak tokoh Kabupaten Sikka yang berjasa secara nasional dan regional seperti: Ben Mangreng Say, Bung Kanis, P.H. Embuiru, P. Piet Petu, P. Osiaz Fernandez, Mgr Abdon Longginus da Cunha, P.J. Bapa Mekeng, Pieter Pedor, Fredrik Djati, Drs A.M. Konterius dan lain-lain.

Dalam mengambil keputusan politik yang sangat mendasar, hati nurani kita harus bersih dari kepentingan apapun dan jujur terhadap sejarah.

Wodonggabe-Nangalimang, 12 Januari 2010

*E.P. DA GOMEZ
Pemerhati masalah sospol Kabupaten Sikka
tinggal di Maumere

www.inimaumere.com


Selengkapnya...

Thursday, 21 January 2010

Berkail Di Tepian Pelabuhan..

Hari-hari ini, saat senggang di sore hari, disaat matahari terkurung dibalik awan, saat rasa jenuh membebani pikiran, cobalah kita sejenak meluangkan waktu 'tuk berada di tepian pantai Teluk Maumere. Di sepanjang tepian yang menjadi garis pantai ini kita bisa menyaksikan pemandangan yang indah. Sambil bersantai di atas turap penahan gelombang kita dihadiahi keleluasaan menjelajahi samudera luas didepan sana. Apalagi disaat sore berteman angin dan mendung tebal, dijamin rasa jenuh akan segera pergi, jauh dan jauh. Jika Anda seorang fotografer handal, obyek pantai ini jelas akan menjadi salah satu target bidikan.
Nah, secara tak sengaja inimaumere.com berada di Pelabuhan Sadang Bui. Ini adalah satu-satunya pelabuhan di Flores yang aktifitasnya cukup ramai . Kebetulan hari-hari terakhir ini cuaca di perairan Nusa Tenggara Timur dilanda angin kencang. Tinggi gelombang laut bahkan membatalkan jadwal pelayaran kapal dan segala macam aktifitas pelabuhan. Tapi untungnya diperairan Flores khususnya di perairan Laut Maumere gelombang lautnya masih tergolong biasa-biasa saja. Karena itulah, sejumlah penggila mancing menggunakan kesempatan ini untuk mengeruk sesuka hati isi laut. Mereka bagaikan yang memiliki isi laut tersebut. Sekali membuang kail dan upssss satu dua ikan sekejap berpindah keatas lantai pelabuhan. Memang inilah Maumere. Kota kecil di tepi pantai yang memiliki kekayaan laut beragam, yang menyediakan bagi penghuni kota ini segalanya.

Kesempatan untuk memancing secara leluasa di Pelabuhan Sadang Bui ini digunakan sebaik-baiknya oleh para penggila mancing. Tak ada kapal yang bersandar sehingga benar-benar leluasa (penundaan pelayaran terutama dari Jawa, Makasar dan Kupang akibat gelombang laut yang tinggi). Pemancing tradisional ini adalah para pencari kesenangan bukanlah nelayan asli. Mereka hanya menggunakan kesempatan ini untuk meluangkan waktu selagi kapal tak bersandar sekaligus mengusir kebosanan. Jadwal mancingnya bisa dari sore hari hingga malam hari. Duduk berjam-jam sambil celoteh bareng teman sangat terlihat disela-sela aktifitas mewaspadai umpannya yang dimakan ikan hehehe... Ya begitulah, suasana ini bukan hanya dilihat di Pelabuhan Sadang Bui bahkan sepanjang tepian pantai Maumere, dari Sadang Bui hingga turap penahan gelombang yang membentang dari Beru hingga Wai Oti (sedang dalam pengerjaan).

Dibawah ini beberapa gambar aktifitas mereka ;










www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Tuesday, 19 January 2010

Frans Seda; Politisi, Pendiri Unika Atma Jaya dan Kompas, Ekonom dan Kolumnis

Mengenang Tokoh Tiga Zaman

FRANS SEDA

(4 Oktober 1926 – 31 Desember 2009)

*oleh : E.P. DA GOMEZ

“Sejarah dilakukan oleh banyak orang. Tapi hanya segelintir orang yang dapat tampil, karena mereka lahir pada saat yang tepat dan mampu menafsirkannya”. Begitu tulis wartawati Italia Oriana Fallaci dalam pengantar bukunya yang terkenal, Interview With History.

Drs Frans Seda, putra Flores, kelahiran Lekebai 4 Oktober 1926, boleh jadi termasuk salah seorang seperti yang dikatakan Fallaci itu: orang yang beruntung dapat tampil dalam pentas perjalanan sejarah Republik Indonesia. “Kita mengenal beliau sebagai tokoh tiga zaman. Beliau pernah menjadi menteri pada zaman Bung Karno, dan menteri di berbagai portefolio pada masa Pak Harto. Juga pada era reformasi, berkontribusi dalam pengembangan demokrasi dan pembangunan”, kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan para wartawan seusai melayat jenazah Frans Seda (Kompas, 02/01/2010).
Beliau meninggal dunia di rumah kediamannya Jl Metro Kencana V/5 Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada hari Kamis pagi pukul 05.00 tanggal 31 Desember 2009, dalam usia 83 tahun, 2 bulan dan 26 hari.

Selain Presiden SBY, telah datang melayat ke rumah duka itu antara lain Wapres Budiono, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, mantan Presiden Megawati, mantan Wapres Tri Sutrisno. Pimpinan Kompas Gramedia Jakob Oetomo, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, mantan Gubernur NTT Ben Mboi dan istrinya Nafsiah, Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Perumahan Rakyat Cosmas Batubara, mantan Menteri Perhubungan dan Menteri Kependudukan & Lingkungan Hidup Emil Salim, Menpan E.E. Mangindaan, Menhub Fredy Numberi, mantan Meneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta dan suaminya Sri Edi Swasono, Gubernur NTT Frans Leburaya, Bupati Sikka Drs Sosimus Mitang, Pimpinan DPRD Sikka Rafael Raga dan Alex Longginus, mantan Menkeu J.B. Sumarlin, mantan Sekjen DPP Partai Katolik dan Pendiri CSIS Harry Tjan Silalahi, Rektor dan Civitas Acedemica Unika Atma Jaya, dan ratusan orang yang tak dapat disebut namanya satu persatu di sini. Sepanjang lebih kurang 2 Km jalan di depan rumah duka itu berjejer ratusan karangan bunga sebagai pernyataan belasungkawa atas kepergian politisi kawakan, pendekar pendidikan dan ekonom senior ini. Itulah wujud dan bukti dari ketokohan Frans Seda, nama yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, nama yang sangat akrab dalam masyarakat NTT, khususnya Kabupaten Sikka.

Prosesi pemakaman orang besar Frans Seda, dilangsungkan tanggal 2 Januari 2010 dalam sebuah untaian upacara yang megah, mulia dan bermartabat. Dimulai ada pagihari dengan acara penupan peti jenazah di rumah duka Pondok Indah, lalu disemayamkan selama satu jam di Kampus Unika Atma Jaya untuk mendapat penghormatan dari komunitas universitas yang didirikannya itu. Tepat jam 11.00 dilangsungkan Misa Requiem di Gereja Katedral Jakarta, dipimpin Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmaja, SJ, didampingi tujuh Uskup lainnya, antara lain Mgr M.D. Situmorang, OFM,Cap (Ketua KWI/Uskup Padang), Mgr Ignatius Suharyo, SJ (Sekjen KWI/Uskup Agung Co-Ajutor KAJ) dan Mgr G. Kherubim Pareira, SVD (Bendahara KWI/Uskup Maumere). Gereja Katedral penuh sesak dengan umat sampai meluber di luarnya. Hadir tokoh-tokoh pemerintah dan masyarakat dari berbagai kalangan dan profesi, dan masyarakat Flores yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Sementara upacara pemakaman dilakukan oleh negara secara militer dengan inspekturnya Menteri Perhubungan Fredy Numberi, mulai dari depan Katedral sampai ke liang lahat di kompleks pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat.

*****

Frans Seda, V.B. da Costa dan Ben Mangreng Say, trio Kabupaten Sikka yang terkenal pada zamannya, adalah rahmat Tuhan untuk rakyat dan bangsa Indonesia melalui bidang politik sebagai pilihannya dan moralitas Katolik sebagai landasannya. Sedangkan bagi masyarakat Flores, Seda-Sentis-Say, adalah personifikasi demokrasi dan integrasi etnis Flores dan golongan Katolik ke tengah kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia ini.

Saya telah mendengar nama Frans Seda sejak medio tahun limapuluhan ketika masih di bangku SMPK Yapenthom Maumere (1953-1956). Antara tahun 1956 sampai 1971 saya mendapat kesempatan dalam berbagai pertemuan dan kegiatan dengan Pak Frans Seda. Mulai dekat dan akrab sejak Pemilu 1971, ketika saya terlibat dalam kampanyenya “Kontas” untuk memenangkan Partai Katolik di Kabupaten Sikka. Sejak itu terjalin keakraban dan persaudaraan sampai dengan wafatnya 31 Desember 2009. Tigapuluh delapan tahun, bukan waktu yang pendek. Sebab itu saya menulis sebuah buku kecil setebal 135 halaman untuk menginformasikan kepada khalayak tentang siapa itu Frans Seda, dalam judul “Drs Frans Seda 80 tahun: Catatan Perjalanan Seorang Pejuang” (Yayasan Kasimo Cabang Sikka & Yayasan Dobo Nualolo Maumere, Percetakan Arnoldus Ende, September 2006). Buku itu bukanlah sebuah biografi. Lebih tepat disebut saja sebagai catatan sekilas tentang perjalanan hidup, karya dan perjuangan tokoh tiga zaman itu. Karena isi buku ini saya angkat dari pengalaman bersama beliau, sambil memetik, merangkum, meringkas dan mengintisarikan dari banyak sumber naskah/buku, dengan tekad yang tulus dan niat yang lurus untuk memaknai hari ulang tahun ke-80 ekonom senior itu tanggal 4 Oktober 2006.

Saya tersentak kaget dan terkejut, ketika membaca Pos Kupang dan Flores Pos (05/01/2010) yang memberitakan bahwa Bupati Sikka dan satu-dua Anggota DPRD Kabupaten Sikka mengusulkan agar Bandara Waioti dibaptis dengan nama Frans Seda. Alasannya, Frans Seda telah berjasa dalam mengupgrade landasan dan fasilitas bandara itu ketika beliau menjadi Menteri Perhubungan (1968-1973). Pada hemat saya, karya, jasa pengabdian, kebesaran nama dan ketokohan Frans Seda tidak bisa diukur karena perhatiannya pada sepenggal tanah dan sebuah “proyek” kecil di lapangan Waioti itu. Karya dan jasa Frans Seda sebagai putera Gereja Katolik, politisi, ekonom dan pendekar pendidikan, jauh lebih luas cakupan dan jangkauannya, menyentuh banyak aspek, dimensi dan dampaknya. Saya sependapat dengan Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang mengatakan bahwa “pengabdian nama Frans Seda untuk nama bandara di NTT mungkin dinilai terlalu kecil” (Pos Kupang, 05/10/2010). Terus terang, saya tidak setuju, kalau Bandara Waioti diberi nama Frans Seda. Terlalu kecil untuk ukuran kebesaran dan ketokohan Frans Seda, apabila dihubungkan dengan alasan yang diangkat Bupati Sikka dan sementara Anggota DPRD Kabupaten Sikka. Akan tetapi jika hal itu telah menjadi tekad dan keputusan Pemerintah bersama DPRD Kabupaten Sikka, tentu saja saya tidak berhak menghalanginya, meski hati kecil saya tidak bisa menerimanya.

Frans Seda telah berbuat banyak untuk bangsa dan negara ini. Secara luas telah saya tulis dalam buku yang saya sebutkan di atas. Di sini saya hendak meringkasnya dalam uraian berikut.

Sejak pulang dari Negeri Belanda (Mei 1956) setelah menyelesaikan studinya di Katholieke Economische Hogeschool Tilburg (beliau adalah awam Flores pertama yang meraih gelar sarjana, Drs), Frans Seda memilih Partai Katolik sebagai kendaraan politiknya. Menduduki posisi sebagai Wakil Ketua DPP, mendampingi I.J. Kasimo. Oleh kemampuan dan kepiawaiannya, ia terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Katolik (1961-1968), seterusnya menjadi Anggota Presidium DPP Partai Katolik (1968-1973). Setelah Partai Katolik dilebur ke dalam PDI (1973), ia dipercayakan sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Pusat (1973-1996), kemudian Anggota Penasehat DPP PDI Perjuangan (1996-2009). Frans Seda adalah satu-satunya pejabat negara pada awal tahun tujuhpuluhan yang dengan sadar dan berani menolak “perintah wajib” menjadi anggota Golkar.

Di antara sekian banyak prestasi yang dicapainya dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum DPP Partai Katolik, saya mencatat prestasinya sebagai negosiator dalam penyelesaian masalah Irian Barat. Atas permintaan pimpinan ABRI (Jenderal A.H. Nasution), pada Maret 1962 Frans Seda diutus untuk mendukung Pastor Oudejans, OFM (kelahiran Belanda yang masuk menjadi WNI), yang dikirim resmi oleh negara dalam suatu misi rahasia ke Negeri Belanda, Misi Frans Seda dan Pastor Oudejans adalah mengupayakan agar Pemerintah Kerajaan Belanda menerima Plan Bunker (yang sudah disetujui Pemerintah RI) sebagai bentuk kesepakatan penyelesaian masalah Irian Barat dan untuk mencegah perang terbuka antara RI dan Belanda.

Frans Seda dalam misi rahasia ini telah melakukan pembicaraan tertutup dengan Pimpinan Partai Katolik Belanda (KVP), yang ketika itu mempunyai peran kunci dalam Kabinet Belanda. Singkat ceriteranya, Menlu Belanda Yosef Luns yang sangat berpengaruh, akhirnya sebagai seorang politisi katolik Belanda sangat memahami peran perjuangan Partai Katolik Indonesia di bawah kepemimpinan Frans Seda. Sepulangya Frans Seda di Indonesia (melalui liku-liku visa dan paspor), pada Mei 1962 Pemerintah Belanda mengumumkan keputusan politiknya menerima Plan Bunker.

Uraian lebih rinci dan jelimet tentang perjalanan misi rahasia Frans Seda dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat dari cengkeraman Belanda, dapat dibaca pada buku “I.J. Kasimo, Hidup dan Perjuangannya” (Tim Wartawan Kompas & Redaksi Penerbit Gramedia, kerjasama Yayasan Kasimo & Penerbit Gramedia, Jakarta 1980). Baca juga Kompas (04/01/2010) tulisan wartawan Pieter P. Gero, di bawah judul “Diplomasi Frans Seda”. Peristiwa politik yang berbobot dan bertaraf internasional ini sungguh menarik. Prof Dr J.J.A.M. Van Gennip menulis dsalam bahasa Belanda, “Seda, De Onvervangdare Intermediar” (= Seda, Perantara Yang Tak Tergantikan, dalam buku Frans Seda, Ad Multos Annos, Atma Jaya Jakarta, 1991, halaman 129-131).

Semenjak pulang dari studinya di Belanda (1956), hampir seluruh kegiatan Frans Seda diserap dalam “karya kerasulan” Partai Katolik. Naiknya beliau ke jenjang tertinggi partai kontas itu, banyak sangkut pautnya dengan kemelut politik nasional yang bergejolak sejak awal Desember 1956, suatu peralihan yang menentukan sejarah Indonesia sendiri. Di sinilah berawal karier Frans Seda sebagai pemimpin tertinggi Partai Katolik selama hampir satu dasawarsa, dan berbarengan dengan itu Bung Karno mengangkat Frans Seda sebagai Menteri Perkebunan (1964-1966). Ketika terjadi peralihan kekuasaan ke tangan Soeharto, Frans Seda menduduki kursi pemerintahan selama 12 tahun masa awal Orde Baru sebagai Menteri Pertanian merangkap Menteri Perkebunan (1966), Menteri Keuangan (1966-1968), Menteri Perhubungan & Pariwisata (1968-1973), Duta Besar RI untuk Belgia, Luxemburg dan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE, 1973-1976), dan terakhir sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA, 1976-1978).

*****

Frans Seda dilantik sebagai Menteri Perkebunan tanggal 3 Juni 1964. Hal-hal yang boleh dicatat sebagai sukses dalam jabatannya ini antara lain : (1) Meningkatkan efisiensi perkebunan sebagai sumber devisa utama negara; (2) Mengamankan perkebunan sebagai modal bangsa dari penguasaan PKI/Komunis yang memang berusaha keras tapi tidak bisa berkutik, dicegah Gerakan Turbun (Turun Kebun) yang diorganisir pimpinan departemen, dan pengorganisasian dari Badan Pengamanan Produksi Perkebunan; (3) Mempolakan kerja sama Perusahaan Perkebunan Negara dengan Swasta dalam satu keterkaitan usaha, terutama dalam hal teknologi dan pemasaran; dan (4) Mengalihkan pelelangan tembakau ke Bremen (Jerman) dan membentuk joint venture dalam bidang pemasaran tembakau.

Setelah terjadi peristiwa Gerakan 30 September, Presiden Soekarno melakukan perombakan kabinet, yang disebut Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan Lagi, di mana Frans Seda dipercayakan sebagai Menteri Pertanian merangkap Menteri Perkebunan. Selama tiga bulan usia kabinet ini, dapat dicatat hasil karya Frans Seda memimpin Departemen Pertanian adalah antara lain: (1) Menyatukan Departemen Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perikanan yang tergabung dalam Kompartemen Pertanian dan Agraria dalam satu departemen saja, yakni Departemen Pertanian; (2) Mengaktifkan BIMAS dan memasukkan Indonesia kembali menjadi anggota FAO.

Pada tanggal 25 Juli 1966, Presiden Soekarno membubarkan Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan Lagi. Selanjutnya Presiden menugaskan kepada Letnan Jenderal Soeharto selaku Pengemban Ketetapan MPRS Nomor IX/MPRS/1966 (tentang Supersemar) segera membentuk Kabinet AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat). Sangat mengejutkan banyak orang, terutama di kalangan politisi nasional dan kelompok non Kristen/Katolik, bahwa Frans Seda mendapat porsi jabatan Menteri Keuangan, suatu posisi kunci dalam urusan kenegaraan ini.

Frans M Parera menyatakan bahwa Frans Seda termasuk dalam anggota barisan pemikir dan arsitek pembangunan ekonomi nasional. Sementara pakar dan begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo mengatakan, “Sebagai Menteri Keuangan pada masa yang paling sulit, Frans Seda memberikan andil yang besar kepada perekonomian negara”. Menurut Sumitro, ketika Frans Seda menjadi Menteri Keuangan (1966-1968), keadaan keuangan negara waktu itu masih kacau balau dengan menanggung inflasi sekitar 600%. Suasana masih serba gaduh, dan ancaman komunis masih kuat. Dalam keadaan seperti itu Frans Seda mampu mengatasinya.

Menurut Sumitro, banyak orang, termasuk di lingkungan Katolik sendiri kurang menghargai Frans Seda dari sisi ini, yakni sebagai Menteri Keuangan. Padahalnya dari sisi inilah Frans Seda telah memberikan andil yang besar kepada negara. Ditanya tentang kelemahan apa yang dimiliki Frans Seda, Sumitro hanya menebarkan senyumnya yang khas itu. Ia menuturkan, yang unik dari Frans Seda ialah selain seorang ekonom, sekaligus juga seorang politisi. Kombinasi ini sangat bermanfaat menunjang kariernya. Orang seperti Frans Seda sulit didapat. Kalau toh ini dapat dianggap sebagai kelemahannya, menurut Sumitro, rasa sebagai politisinya sering mempengaruhi dirinya dalam mengambil keputusan-keputusan.

Sedangkan Jenderal A.H. Nasution berpendapat bahwa pengangkatan Frans Seda sebagai Menteri Keuangan saat itu, berdasarkan pertimbangan antara lain, Indonesia ingin memperbaiki hubungan dengan Eropa Barat khususnya untuk meminta bantuan ekonomi. Waktu Orde Lama, Indonesia condong ke Blok Timur yang komunis dan memusuhi dunia barat, termasuk Amerika. Frans Seda dinilai sebagai orang yang tepat, terutama karena ia dari Partai Katolik. Ternyata harapan yang dibebankan kepada Frans Seda, menurut Nasution, dapat dijalankannya dengan baik. Dengan menggunakan relasinya, secara cepat dapat memperbaiki hubungan Indonesia dengan Belanda, oleh karena saat itu di negeri Belanda sendiri ada orang Partai Katolik Belanda duduk dalam kabinet. Menurut Pak Nas, usaha Frans Seda inilah yang melahirkan IGGI (= Inter Governmental Group on Indonesia), sebuah forum multilateral negara-negara donor pembangunan Indonesia yang dibentuk untuk memulihkan dan mengembangkan pembangunan ekonomi Indonesia pada awal Orde Baru. Anggota-anggotanya antara lain Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Kanada, Australia, Belgia, Perancis, Jerman Barat, Italia, dan Inggris. Lembaga yang dipimpin oleh seorang Menteri dari negara Belanda itu, didukung pula Selandia Baru, Norwegia dan Swis, serta lembaga-lembaga keuangan internasional seperti: IMF, Bank Dunia, Program Pembangunan PBB (UNDP), Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Pertemuan pertama kali dilaksanakan di Amsterdam pada Pebruari 1967). “Zaman kita beralih dengan mencari bantuan dunia barat, di situlah Frans Seda berposisi sangat penting,” demikian Nasution.

Menurut Drs R.J. Kaptin Adisumarta (Pembantu Khusus Menteri Keuangan, 1966-1970), sebagai Menteri Keuangan Frans Seda berjasa membereskan keuangan negara yang masih berantakan. Salah satu kebijakan tokoh Partai Katolik ini waktu itu adalah tidak memperbolehkan adanya menteri yang memegang manajemen keuangan. Semua keuangan negara dikelola satu orang, yaitu Menteri Keuangan. Akibatnya, semua menteri ”memusuhi” Frans Seda. ”Bayangkan saja, kalau enggak diumpat sama menteri lain. Sebab, semua departemen punya sumber penerimaan negara sendiri, kok diciut semua. Tapi, itu dilaksanakan Frans Seda demi perbaikan keuangan negara. Hasilnya? Sekarang sudah settled, tinggal meneruskan”, ujarnya.

Kaptin juga mengungkapkan, pihak luar negeri melihat Frans Seda sebagai seorang figur yang mempunyai tujuan kerja yang jelas, strategi jelas, memiliki sikap tegas dan bijak dalam pemilihan orang-orang. Ini berkaitan dengan keberhasilan Indonesia menata keuangan negara.

Menurut Kaptin, Frans Seda ditunjuk menjadi Menteri Keuangan karena memang Indonesia pada saat itu membutuhkannya. Waktu itu Indonesia sedang membangun kerja sama dengan luar negeri, seperti Jerman, Perancis, Belanda, Amerika Serikat. Frans Seda yang punya banyak teman dan sudah biasa di Eropa membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Namun yang terpenting – kata Kaptin – Frans Seda mempunyai ide yang sudah jelas mengenai sanering (penyehatan) keuangan. Dan mendapat dukungan.

Masih banyak orang di antara para pakar ekonomi dan politik yang memberi penilaian terhadap karya Frans Seda sebagai Menteri Keuangan. Pada hemat saya, yang paling menarik adalah tulisan Rizal Ramli dalam Kata Pengantar buku “Simfoni Tanpa Henti”. Buku ini diterbitkan Desember 1991, ketika Frans Seda berusia 65 tahun dan Rizal Ramli sendiri baru berusia 38 tahun. Terpaut 27 tahun memang. Rizal bukan orang Flores dan bukan dari lingkungan Katolik, sehingga tidak ada alasan primordial untuk meng-“katrol” peranan dan kontribusi pikiran-pikiran Frans Seda dalam sejarah ekonomi Indonesia. Rizal Ramli antara lain menulis, ”Ada hal yang terlupakan dalam sejarah ekonomi Indonesia, yaitu peranan Frans Seda dalam periode stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi pada awal Orde Baru, yaitu dalam kapasitasnya sebagai Menteri Keuangan tahun 1966-1968. Masa itu adalah masa transisi dan periode yang sangat kritis bagi Orde Baru. Banyak penulis sejarah ekonomi Indonesia, terutama penulis-penulis dari barat, yang hanya menonjolkan peranan Prof Wijoyo dan kawan-kawan dalam masa transisi ini. Sebagai Aspri Presiden, tim Prof Wijoyo memang terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan pada masa transisi itu. Peranan Prof Wijoyo dan kawan-kawan baru mulai menonjol, baik secara konseptual maupun operasional, setelah Prof Wijoyo ditunjuk sebagai Ketua Bappenas”.
Sebagai Menteri Keuangan pada masa transisi tersebut, ada sejumlah langkah strategis yang dilakukan Frans Seda. Pertama, mendaftarkan kembali Indonesia sebagai anggota Bank Dunia dan IMF. Langkah strategis tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mengembalikan kepercayaan internasional terhadap Indonesia dan memudahkan negosiasi utang-utang Orde Lama. Kedua, melakukan lobbying dengan negara Eropa untuk penjadwalan kembali utang-utang luar negeri. Frans Seda bersama-sama dengan Radius Prawiro (ketika itu Gubernur Bank Indonesia), dan Hans Pandelaki (saat itu Sekjen Departemen Keuangan) melakukan perjalanan keliling Jerman, Belanda, dan negara-negara Eropa lainnya. Pada saat yang hampir bersamaan, tim Sultan Hamengkubuwono IX berangkat ke Tokyo untuk mendapatkan pinjaman baru dari pemerintah Jepang. Sebagai hasil dari kedua tim tersebut, negara-negara kreditor Indonesia kemudian setuju menjadwalkan kembali utang-utang Indonesia dan membentuk konsorsium IGGI.

Frans Seda juga memperkenalkan prinsip anggaran berimbang (balanced budget), yaitu prinsip agar pengeluaran dan penerimaan negara berimbang. Jika pengeluaran lebih besar dari penerimaan, maka defisitnya harus bisa dibiayai oleh pinjaman luar negeri.
Prinsip tersebut diperlukan agar tidak terjadi lagi pembiayaan defisit anggaran dengan cara mencetak uang – cara yang lazim dipakai pada awal tahun 1960-an dan merupakan penyebab utama inflasi. Dalam konteks saat itu, usaha menerapkan anggaran berimbang adalah bagian dari upaya untuk menekan laju inflasi yang mencapai angka 635 persen pada tahun 1966.

Hal-hal yang dapat dicatat sebagai karya besar Frans Seda ketika menjabat Menteri Keuangan, antara lain: (1) Operasi penyelamatan ekonomi negara dengan mengganyang “hyperinflation” dan kebijakan stabilitas dan rehabilitasi ekonomi sebagai landasan untuk pelaksanaan pembangunan; (2) Mengembalikan kepercayaan rakyat pada ekonomi dan demokrasi antara lain dengan mengembalikan “single management” APBN di tangan Menteri/Departemen Keuangan dan mengintroduksi-kan APBN Berimbang yang dibicarakan dengan DPR; (3) Mengembalikan kepercayaan luar negeri pada RI dengan antara lain kembali menjadi anggota Bank Dunia/IMF dan Asian Development Bank (ADB), menyelesaikan utang-utang dan membuka pintu investasi swasta asing dan domestik; (4) Meletakkan dasar-dasar dan kebijakan anggaran berimbang dan Undang-Undang APBN, menyelesaikan Undang-Undang Penanaman Modal Asing, Modal Dalam Negeri dan Undang-Undang Pokok Perbankan; (5) Merombak etatisme dalam ekonomi dengan mengadakan deregulasi, debirokratisasi, dekonsentrasi dan desentralisasi; (6) Mendorong terbentuknya IGGI sebagai suatu konsorsium penyelesaian utang-utang lama dan pemberian utang-utang baru yang berfungsi sampai tahun 1992.

Pada tanggal 6 Juni 1968, Kabinet Ampera dibubarkan, dan Presiden Soeharto mengumumkan pembentukan Kabinet Pembangunan I (1968 – 1973). Frans Seda digeser dari Menteri Keuangan menjadi Menteri Perhubungan. Menurut Presiden Soeharto, bahwa di dalam menetapkan posisi kabinet itu, dipertimbangkan berbagai faktor, antara lain, “Meliputi berbagai golongan kekuatan yang ada di dalam masyarakat dewasa ini, ialah dari Golongan Karya, ABRI dan non ABRI dan golongan politik yang sedapat mungkin terdiri dari tenaga-tenaga yang ahli (tehnokrat)”. Patut disadari dan dimaklumi, bahwa basis dukungan politik Frans Seda melalui kekuatan Partai Katolik dipandang tidak cukup dan tidak pas dengan situasi dan kondisi politik yang sedang berkembang saat itu. Satu-satunya kekuatan yang dimiliki adalah kualifikasi atas kapasitas pribadi sebagai tehnokrat ekonomi yang punya relasi kuat dengan kepentingan-kepentingan negara dalam hubungan ekonomi dengan luar negeri.

Prestasi Frans Seda sebagai Menteri Perhubungan adalah membuat terobosan dan keputusan-keputusan yang strategis, antara lain: (1) Mempersatukan seluruh kegiatan perhubungan (darat, laut, udara dan telkom) dalam satu kebijakan nasional terpadu, dan mengembalikan penguasaan sektor perhubungan di tangan sipil; (2) Meletakkan dasar-dasar kebijakan “reguler liner service“ di laut, udara, dan darat, dan sistem telekomunikasi nusantara; (3) Membina sistem pengelolaan perhubungan secara “regulated competition“ dengan perusahaan-perusahaan negara sebagai usaha inti; (4) Mengintroduksikan angkutan laut dan udara perintis bagi daerah-daerah terpencil; (5) Mengorganisasikan pelayaran Samudera Nasional dalam suatu “Freight Conference” dan memberi peran pada pelayaran rakyat dalam pelayaran dalam negeri; (6) Mengintroduksikan di Departemen Perhubungan, Direktorat Jenderal Pariwisata dengan rencana pengembangan pariwisata serta lembaga-lembaganya dan penentuan Bali sebagai Pusat Pengembangan Pariwisata Indonesia; (7) Mengambil insiatif dan merencanakan pembangunan Bandar Udara Soekarno-Hatta di Cengkareng (sebagai peralihan kegiatan Bandara Kemayoran ke Halim Perdana Kusuma); (8) Mengambil inisiatif dan membentuk Otorita Pulau Batam (yang kemudian diserahkan kepada Pertamina); (9) Memilih dan menentukan Nusa Dua sebagai daerah pengembangan sarana turis internasional dan membentuk BTDC Nusa Dua.

Pada tanggal 27 Maret 1973, Presiden Soeharto didampingi Wakil Presiden Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengumumkan susunan Kabinet Pembangunan II (1973-1978). Frans Seda tidak masuk lagi dalam kabinet ini dan untuk seterusnya. Itulah konsekuensi politik dari apa yang dikemukakan Presiden Soeharto ketika mengumumkan susunan kabinet ini antara lain mengatakan, “Dalam menyusun Kabinet Pembangunan II ini, saya telah mendapatkan banyak saran dan pertimbangan dari parpol-parpol, ormas-ormas, organisasi mahasiswa dan perorangan”. Harus dimaklumi bahwa Partai Katolik dari mana Frans Seda berasal hanya mendapat 3 kursi pada Pemilu 1971, dan sejak Januari 1973 telah difusikan ke dalam PDI yang tergolong sebagai partai “gurem”.

Apakah Frans Seda sudah terlempar dari panggung politik dan pemerintahan? Ternyata ia masih dipercayakan pemerintah untuk jabatan Duta Besar RI untuk Belgia dan Luxemburg sekaligus merangkap sebagai Kepala Perwakilan RI di Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Penempatan Frans Seda sebagai Duta Besar Indonesia di Belgia, menurut Mh. Isnaeni, memang dialah orangnya yang paling tepat. Belgia merupakan sentrum ekonomi di mana Indonesia mempunyai kepentingan, dan Frans Seda yang ahli ekonomi itu sudah cocok. Jadi tidak berlebihan. Penugasannya boleh dikatakan “the right man on the right place”, kata Isnaeni.

Dalam tiga tahun penugasan ini (1973-1976), Frans Seda mencatat prestasi kerjanya, antara lain: (1) Membentuk Asean Brussels Commitee sebagai wadah kerja sama Perwakilan Negara ASEAN pada MEE; (2) Meletakkan dasar kerja sama formal antara MEE dan ASEAN; (3) Membawa Raja dan Ratu Belgia berkunjung ke Indonesia; (4) Membawa Presiden MEE berkunjung ke Indonesia; (5) Mengambil inisiatif menghubungi secara informal Pemerintah Portugal untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam policy dan proses dekolonisasi mereka di Timor Timur, yang kemudian diikuti suatu perutusan formal dari RI di bawah pimpinan Jenderal Ali Murtopo.

Tentang butir (5) tersebut, dalam buku INTEGRITAS ditulis lengkap seperti diuraikan di bawah ini, “Dalam hubungan ini, Duta Besar RI di Belgia, Frans Seda, mempunyai saham yang cukup besar dalam ikut berusaha mengadakan pendekatan di Lisabon. Duta Besar Frans Seda sebelumnya telah mempunyai kontak-kontak pribadi dengan salah seorang pejabat Departemen Luar Negeri Portugal, yakni Prof Campignos, yang juga sebagai seorang mahaguru di salah satu Universitas di Lisabon. Prof Campignos, merupakan salah seorang teman akrab Dubes Frans Seda sewaktu bersama-sama mengikuti kuliah di perguruan tinggi di Perancis. Sebagai seorang pejabat dari Departemen Luar Negeri, Prof Campignos saat itu juga mempunyai jalur-jalur langsung dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintah Portugal. Hal ini oleh Dubes Frans Seda tidak disia-disiakan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menggunakan Prof Campignos. Sekitar bulan September 1974, Dubes Frans Seda dan Mohamad berhasil masuk ke Lisabon untuk mengadakan kontak-kontak kepada beberapa pejabat pemerintah serta membuat dan mengatur acara kunjungan Jenderal Ali Murtopo di Lisabon”.

Tahun 1976 tugas Frans Seda sebagai duta besar berakhir. Ada komentar yang menarik dari Emil Salim, rekan dekatnya ketika bersama duduk dalam kabinet. “Sayang sekali, masa jabatannya terlalu singkat”. Belgia itu pusat pasaran bersama dan saat itu masuknya Indonesia ke pasar Eropa tidak gampang. Sebagai dubes, Frans Seda berusaha memperlancar kondisi itu. Tapi yah, iklim dingin Belgia membuat anaknya yang kedua, Nesa, menderita semacam alergi terhadap udara dingin, sehingga terus menerus sakit, delapan bulan dari satu tahun. “Frans rupanya lebih baik mengorbankan jabatannya demi puterinya itu,” demikian Emil Salim.

Sekembalinya dari Belgia, Frans Seda diminta masuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA, 1976-1978). Dua tahun, terasa seperti namanya “tenggelam” dalam hiruk pikuk politik Orde Baru. Ketika itu mulai timbul reaksi masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa terhadap kebijakan pembangunan pada umumnya, khususnya konsep BKK/NKK (normalisasi kampus) yang menjurus kepada pembungkaman kegiatan politik mahasiswa. Juga sekitar konsep pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan dan kurang mengandalkan pemerataan. Demonstrasi-demonstrasi mahasiswa menggelegar. Salah satu konsep yang disiapkan DPA adalah Pengaturan Pendidikan Nasional dalam satu rancangan undang-undang pokok.

Apa tugas yang paling mengesankan yang pernah ditangani? Menjawab pertanyaan menggelitik dari wartawan Kompas Julius Pour, mantan Duta Besar ini mengenang kembali sebuah peristiwa yang agak menggelikan: ”Mengantar Ratu Febiola dari Belgia ke Keraton Yogyakarta agar beliau segera punya putera. Baru kemudian saya tahu, jamu Jawa itu rumit dan tak sekali minum, beres, perlu ramuan untuk beberapa kali. Maka, sewaktu saya kembali ke Brussel, Sultan Yogya titip ramuan tersebut; mungkin hanya saya, Dubes yang membawa titipan jamu Jawa di kantong diplomatik ........” (Kompas, 4/10/2006).

Masih ada yang lebih menarik tentang Frans Seda sebagaimana diceriterakan Prof Dr Widjojo Nitisastro pada tanggal 6 Oktober 1996 ketika acara peluncuran buku ”Kekuasaan dan Moral” yang berlangsung di Jakarta, dalam rangka peringatan 70 tahun usia Frans Seda. Prof Widjojo adalah Ketua Tim Penasehat Ahli Ekonomi Presiden (1968-1973). Anggota-anggotanya antara lain Emil Salim, Frans Seda, Mohamad Sadli, Subroto, Ali Wardhana dan Sumitro Djojohadikusumo.

Widjojo menceriterakan bahwa pada setiap hari Kamis, Tim Penasehat ini melakukan rapat. Ada tiga anggota tim yang selalu datang terlambat, yaitu: (1) Emil Salim sering datang terlambat, dan meminta maaf atas keterlambatannya; (2) Mohamad Sadli, datang terlambat, minta maaf dan menerangkan sebab-sebab keterlambatannya; dan (3) Frans Seda, paling terlambat datang, tidak minta maaf dan tidak menjelaskan alasan keterlambatannya.

Demikian ringkasan sekilas tentang masa pengabdian Frans Seda di lingkungan pemerintahan sejak menjadi Menteri Perkebunan tahun 1964.



*****

Dalam karya kerasulan Gereja Katolik, Frans Seda memaknai penghayatan imannya dalam wujud empat karya besar di bawah ini:

Pertama, dengan sejumlah kawannya sebanyak 15 orang, terdiri dari unsur tokoh-tokoh eks IMKI (Ikatan Mahasiswa Katolik Indonesia, organisasi mahasiswa Katolik yang berstudi di Negeri Belanda), diwakili Frans Seda, unsur PMKRI yang diwakili Anton M. Moeliono, ISKA (Ikatan Sarjana Katolik) yang diketuai Drs Lo Siang Hien Ginting, dan tokoh Katolik seperti I.J. Kasimo dan Ben Mang Reng Say, mereka mendirikan Universitas Katolik Atma Jaya di Jakarta. Unika ini mulai beroperasi tanggal 1 Juni 1960, berarti tahun 2010 ini mencapai usia emas, 50 tahun. Sayang, Frans Seda telah meninggal lebih cepat lima bulan, tak dapat menyaksikan hari raya yang sedang dikemas. Dalam sambutannya ketika jenazah Frans Seda disemayamkan di Komplek Unika Atma Jaya selama lebih kurang satu jam, Rektor Unika Atma Jaya Prof Dr F.G. Winarno menegaskan bahwa Frans Seda adalah jiwa dan tokoh sentral dari universitas ini.

Kedua, Frans Seda bersama I.J. Kasimo, Jakob Oetomo dan P.K. Ojong adalah pendiri Harian Kompas, yang terbit pertama kalinya tanggal 28 Juni 1965. Kini sudah menyongsong usia 45 tahun. Ada mulut usil yang mempelesetkan Kompas sebagai “Komando Pastor”, atau “Komando Pak Seda”. Padahalnya semua orang tahu bahwa yang memegang komando atas pengelolaan harian terbesar tirasnya di Indonesia yang terbit dari dapur kerja di Jl Palmerah Selatan 26-28 Jakarta itu adalah P.K. Ojong (+ 31 Mei 1980) dan Jakob Oetomo.

Terbitnya harian Kompas ini dimulai dengan proses minta izin usaha, izin terbit dan izin cetak. Penuh rintangan dan liku-liku, walaupun sudah ada restu dari Presiden Soekarno, bantuan pimpinan Angkatan Darat dan berkat Uskup Agung Jakarta. PKI dan kaki tangannya yang menguasai birokrasi aparatur berusaha keras untuk menghadang penerbitan harian ini, antara lain dengan mematok syarat bahwa izin cetak dapat diberikan apabila sudah terdaftar 3.000 pelanggan. Menurut Frans Seda, ini benar-benar suatu pukulan yang bisa knock out!. Namun mereka lupa, bahwa masih ada satu kekuatan yang bernama Flores. Frans Seda segera berpaling ke Flores, mengimbau semua anggota Partai Katolik, guru-guru dan anggota Koperasi Kopra di Kabupaten Sikka, Ende dan Flores Timur. Dalam waktu singkat daftar pelanggan lebih dari 3.000 orang lengkap dengan alamat dan tandatangannya tiba di Jakarta. Nah, izin cetak segera diterbitkan penguasa militer, Kodam V Jaya.

Cita-cita Kompas, demikian Frans Seda, adalah menjadi sebuah monumen nasional dari hati nurani rakyat, sebagai sumbangsih para pemrakarsa dan pendirinya, dari profesi kewartawanan Indonesia dan dari korps wartawan pengasuhnya.

Ketiga, tanggal 24-30 Juli 1988 diselenggarakan Perayaan Nasional Tahun Maria di Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Perayaan akbar ini dihadiri 33 uskup Indonesia dengan utusan umat sekitar 3.000 orang dan umat Katolik sekitar 50.000 orang. Peristiwa keagamaan ini sangat berkesan dan mengangkat pamor Kabupaten Sikka ke pentas sejarah gereja dan dunia pariwisata. Selain kerja keras dari ratusan anggota panitia yang dipimpin mantan Bupati L. Say, tidaklah kurang peran yang dimainkan Frans Seda untuk menyukseskan perayaan tersebut.

Keempat, tanggal 11-12 Oktober 1989, Maumere, Kabupaten Sikka dan Flores mencatat sejarah. Hari-hari itu adalah kunjungan kegembalaan Sri Paus Yohanes Paulus II. Tidak lain, peristiwa bersejarah ini bisa terjadi karena kerja keras dan perjuangan Frans Seda bersama para uskup Indonesia yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), sehingga Sri Paus boleh berkunjung ke Jakarta, Yogyakarta, Maumere, Dili dan Medan.

”Mengapa Sri Paus ke Flores? Mengapa tidak ke Denpasar, Kupang, Makasar, Ambon atau kota besar lain di Indonesia Timur?” tanya wartawati Intisari Lily Wibisono kepada Frans Seda, Putra Flores itu menjawab dengan santai saja, ”Flores, pulau Katolik; 90% penduduk Flores adalah orang Katolik. Bangun pagi tanda salib, mau makan tanda salib, mau berenang di air laut tanda salib, mau tidur tanda salib, mau panjat pohon tanda salib, mau curi kelapa di kebun orang juga tanda salib. Bahkan batu-kayu, gunung dan lembah, babi-kambing, ikan di laut dan burung di udara, semuanya sudah Katolik”. Si wartawati yang Katolik itu tertawa terbahak-bahak. ”Dan mengapa di Maumere, bukan di Ende?” tanya wartawati yang cantik itu. ”Hanya soal praktis saja, bukan luar biasa. Kota kecil Maumere punya landasan udara yang memadai, fasilitas penginapan, transportasi, kantor pos, bank, rumah sakit bisa diandalkan, punya dua seminari tinggi, dan ada Gelora Samador”, ujar Frans Seda.

Itulah sekelumit cerita tentang karya Frans Seda dari sekian banyak yang telah dikerjakannya sepanjang hidupnya bagi kejayaan Gereja Katoli di Indonesia. ”Pro Exclesia et Patria”.

*****

Jelaslah sudah, tulisan ini tidak bermaksud lain dari pada menolak ide atau gagasan untuk memberi nama Frans Seda bagi Bandara Waioti. Sebab, peranan Frans Seda sebagai salah seorang arsitek ekonomi modern Indonesia, seorang politisi Katolik yang beken, piawai dan bermoral, pendekar di bidang pendidikan, pendiri sebuah harian ternama, penulis kolom surat kabar yang jempol, dan selaku pengukir rautan wajah Gereja Katolik di Indonesia, sudah dapat dinilai pada takaran yang berdimensi sejarah. Dengan demikian ketokohan Frans Seda tidak hanya dapat dihitung dan diukur dari sebuah ”proyek kecil” di Bandara Waioti Maumere.

Sudah lama ada pikiran yang masih tersimpan di benak banyak orang yang bersikap kritis dan rasional, hendak mengusulkan agar Bandara Waioti diabadikan dengan nama ”Don Thomas”. Raja Sikka ke-15 (1895-1954) itu adalah seorang pemimpin yang genius, brilian dan visioner yang telah memprakarsai dan merintis pembangunan bandar udara Waioti pada tahun 1943-1944. Tentang beliau, dengan seluruh karya dan jasanya, ide dan gagasannya, kelebihan dan kekurangannya, boleh dibaca buku ”Don Thomas, Peletak Dasar Sikka Membangun” (E.P. da Gomez & Oscar P. Mandalangi, Yapenthom Maumere, Percetakan Arnoldus Ende, 2003/2005/2006). Bahkan semasa hidupnya Frans Seda pernah berkata ”adalah tepat apabila Bandara Waioti diberi nama Don Thomas”.** (djo)




E.P. DA GOMEZ
Fungsionaris Partai Katolik (1961-1973), PDI (1973-1996) dan PDI Perjuangan (1996-kini).
www.inimaumere.com

Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---