Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..

Saturday, 4 December 2010

Gren Mahe, Keunikan Sebuah Budaya

Maumere adalah Ibukota Kabupaten Sikka, terletak di Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kota Maumere berada di pesisir Pantai Utara(Pantura)Flores dengan Bandara Frans Seda serta Pelabuhan Laut L.Say sebagai pintu gerbangnya. Lewat inimaumere.com Anda bisa menjelajahi Kabupaten kecil ini, epang gawan (terima kasih) telah berkunjung... Kontak Kami
WARGA Kampung Boganatar, Desa Kringa, Kecamatan Talibura, memiliki budaya unik yang biasa digelar dalam sebuah pesta budaya. Budaya tersebut bernama Gren Mahe.
Gren Mahe, merupakan pesta adat menyambut kemenangan terhadap berbagai tantangan. Ritual adat ini sebenarnya sudah ditinggalkan sejak 22 tahun silam, tanpa satu alasan yang pasti. Dan, selama jangka waktu terlupakannya ritual tersebut, masyarakat di wilayah ini tertimpa berbagai tantangan dalam interaksi sosialnya. Antara lain terserangnya berbagai sumber penyakit, kekeringan, menurunnya produktivitas pertanian dan lainnya.
Seharusnya ritus adat ini dilakukan setiap lima tahun sekali. Dan, dirayakan dalam sepekan sejak pembangunan Woga dan pembersihan Namang sebagai lokasi upacara.
Pada dua hari perayaan ini, selain dihadiri seluruh warga Kampung Boganatar juga warga dari desa tentangga di ufuk Timur Kabupaten Sikka yakni Desa Hikong dan Timutawa.

Bapak Yosef Moses, salah seorang tokoh dan pemangku adat setempat menuturkan bahwa terakhir pesta budaya ini dilaksanakan pada tahun 1985 atau 22 tahun silam. Ia sendiri tidak merinci apa alasannya.

Moat Moses mengatakan, makna pelaksanaan ritus ini adalah untuk meminta berkat dari Ibu Bumi atau Ina Nian Tana dan Bapa Langit atau Ama Lero Wulan Reta agar bumi, Kampung Boganatar dan masyarakat di wilayah ini senantiasa diberi kedamaian, sukses dalam berbagai bidang pembangunan dan kehidupan berbudaya, dikaruniai persaudaraan dan jauh dari konflik.

"Ancaman wabah penyakit dan gagal panen juga merupakan ujud pesta budaya ini. Warga, melalui para kepala suku dan Ata Moan Weta Naruk (= pembawa doa dan syair adat) Moan Dego, akan menyampaikan doa-doa tersebut kepada leluhur dan wujud tertinggi atau Amapu," katanya.

Selain itu, ritus budaya ini juga dimaksudkan untuk meminta hujan dan siklus musim yang teratur, memohon kesuburan tanah, serta keselamatan serta membangun tekad warga untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Puncak acara Gren Mahe hari pertama tanggal 12 November adalah ritus Tudi-Laba. Pada prinsipnya melui ritus ini para kepala suku yakni suku Wulo, Ketang Kaliraga dan Lewar Lau Wolo memohon restu para leluhur dan sang Pencipta agar seluruh acara gren mahe berlangsung sukses.

Mereka juga memanjatkan doa kepada leluhur dan Tuhan agar para petugasnya diberi kebijakan dalam setiap kesempatan rembuk dan dialog serta pemanjatan doa kepada leluhur dan Yang Maha Tinggi dalam tiga termin doa, yakni pujian, syukur dan permohonan. Acara Tudi-Laba berlangsung di rumah kepala suku di Kampung Boganatar yang berjarak lebih kurang dua kilometer dari lokasi gren mahe di bukit Natar Nuhu.

Rangkaian acara berikutnya adalah perarakan hewan korban dari Kampung Boganatar menuju bukit Natar Nuhu, lokasi gren mahe. Hewan korban utama yakni Widin Tanah bersama hewan korban lainnya diarak kaum pria dalam tari-tarian dan pekik kemenangan. Dengan dandanan lesu rajan dan sarung/sa'en mereka didoakan untuk selalu tampil perkasa baik dalam mengarak hewan korban, maupun selama ritus berlangsung dan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Di tengah pawai dan arak-arakan itu sesekali terdengar seruan kemenangan Ha' Iaaa.. Seruan tersebut mencerminkan ciri maskulinitas dari perayaan ini sebagai perayaan kemenangan. Nuansa kemenangan itu dimaknai sebagai kemenangan atas berbagai hal yang dapat mencederai kehidupan masyarakat.

Tiba di lokasi gren mahe, para pengiring disambut hentakan musik gong-waning. Rangkaian acara berikutnya adalah pemindahan Keris Tawa Tana ke dalam Woga di lokasi gren mahe. Rangkaian acara hari pertama berakhir dengan acara malam jaga yang diisi dengan tari-tarian hingga pagi.

Pada hari kedua, rangkaian pesta budaya ini diawali dengan acara Witi Watu Wara Mahang. Watu Wara Mahang jenis batu ceper atau batu piring yang diambil dan diarak dari arah matahari terbit oleh tiga kepala suku dilanjutkan dengan penanaman Watu Marang pada Mahe oleh seorang tokoh adat yang diangkat oleh para kepala suku dan diberi jabatan "Moan Marang" atau panglima adat.

Jeda acara selama lebih kurang satu jam dari pukul 12.00 - 13.00 wita diisi dengan tari-tarian oleh seluruh hadirin.

Pesta rakyat dan ritus Gren Mahe dilanjutkan dengan pemotongan 15 ekor hewan korban, di antaranya Widin Tanah yang didandani tipa, sejenis selendang yang telah berusia puluhan tahun.

Acara ini menjadi moment paling menegangkan. Rakyat bersorak-sorai memberi semangat kepada hadirin yang mendapat mandat dari para kepala suku untuk melakukan pemotongan hewan korban. Putra Tana Ai yang mendapat mandat untuk memotong satu ekor hewan korban melakukan ritual. Masyarakat bertempik sorak memberi dukungan kepada anak tana, memotongan seekor kambing dengan sempurna disambut tarian dan kahe (sorak-sorai) para hadirin.

Daging hewan korban selanjutnya dibagikan kepada para hadirin disertai emping yang disebut Pelang atau Pare Pelang menandai perjamuan persaudaraan sekaligus mengakhiri pesta budaya ini. (SE)
*

www.inimaumere.com

Artikel Terkait



 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs: Gren Mahe, Keunikan Sebuah Budaya | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---